Showing posts with label fabel-tauladan. Show all posts
Showing posts with label fabel-tauladan. Show all posts

Friday, October 16, 2015

HARI BEBAS POLUSI (oleh : aguskarianto)

gambar : agus karianto
            "Hoiiiiiiiiiiiiiii....teman-teman....ayo kumpul semua !!" teriak Pak Sapi kepada teman-temannya yang sedang main-main di tepi sungai.
            "Ayooo...kumpul ke sini....kumpul ke sini....".
            Mendengar ajakan  Pak Sapi maka semua hewan menghentikan aktivitas bermainnya. 
Mereka keheranan. "Ada apa nih kok Pak Sapi menyuruh kita berkumpul ?".
           Namun, tidak begitu lama, seluruh hewan sudah mendekati pak Sapi. Ada anak sapi, anak kambing, Kerbau, si Pus Meong, si Imut Kelinci, dan siJerapah.
        "Hemmm...ada apa sih Kok kita disuruh kumpul, Pak Sapi ?" tanya si Imut Kelinci membuka pembicaraan.
        "Iya...nih Pak Sapi...mengganggu keasyikan kita bermain saja," sela anak kambing.
        "Padahal kita lagi main petak umpet yaaa," sela anak kelinci. 
        "Yaaa...akhirnya teman-teman yang masih sembunyi ikut keluar semua dech."
        "Bahkaaaan... aku tadi sudah melepas baju hendak berenang di sungai....yaa...akhirnya batal dech aku berenang..." kata pak kerbau.
         Pak Sapi tersenyum mendengar keluh kesah teman-temannya. Walaupun mereka merasa dongkol terhadap Pak Sapi tetapi mereka tidak mau melanggar perintahnya.
       "Aku minta pengertianmu ya, teman-teman," kata pak sapi memulai perkataannya   
       "Aku akan mengabarkan berita gembira buat kalian. Sebenarnya berita gembira ini buat kalangan manusia, tapi tidak ada salahnya kalau kita ikut bergembira juga."
      "Memangnya ada apa sih, Pak Sapi? Apakah kita akan mendapat hadiah istimewa yaaa?"
      "Barangkali kita akan diajak rekreasi gratis yaaaa, Pak Sapi?!"
      "Atau kita akan mendapat makanan istimewa? Mungkin  kita akan mendapat bakso, cwimie, rujak cingur, pangsit mie, es krim, nasi rawon....wuaaah enak tenan itu, Pak Sapi."
        "Hemmm....tenang..tenang...dengar dulu  kabar gembira yang akan aku sampaikan," sela Pak Sapi.
       "Teman-teman...di kampung kita sekarang akan mendapat pemimpin yang baru. Konon katanya, pemimpin kita  ini amat merakyat lho. Orangnya sabar. Dia lebih suka mendengarkan keluh kesah warga. Bahkan dia amat mencintai lingkungan dan suka akan kebersihan. Orangnya jujur dan semua warga amat senang bila bisa duduk bersama pemimpin yang baru ini."
        "Memangnya  ada hubungan apa dengan kita, Pak?"
        "Iya...dari dulu yang namanya pemimpin ya memang harus punya sifat begitu, Pak Sapi," kata Pak Jerapah.
        "Seorang pemimpin itu harus punya sifat amanah, cerdas, bisa melindungi rakyatnya, peduli sama kaum bawah termasuk makhluk Tuhan seperti kita-kita ini. Seorang pemimpin itu bukanlah seseorang yang suka obral janji, sombong, takabur, bermulut manis, seakan-akan peduli sama kaum bawah hanya disaat mereka butuh dukungan saat berkampanye, tetapi saat dia terpilih menjadi seorang pemimpin mereka tidak bisa merealisasikan janji-janjinya  , iya khan?"
        "Hehehehehe...iya juga sih...banyak yang bertingkah laku seperti itu, Pak Sapi!" gumam si Jerapah.
        "Benar..benar...benar....kami sudah muak dengan janji-janji melulu!"
        "Semua calon pemimpin tidak bisa dipercaya semuanya! Mereka itu dikatakan pemimpin SOJAM!" teriak si Kelinci.
        "Wuahhh ada-ada saja pemimpin SOJAM? Apa maksudnya, adik kelinci?"
        "Pemimpin SOJAM itu adalah singkatan dari pemimpin yang Suka Obral Janji Melulu!"
         "Hahahahahaha....hahahahhaha...hahahahahaha....Pemimpin SOJAM" teriak semua hewan sambil tertawa terpingkal-pingkal.
         Pak Sapi ikut tersenyum mendengar ada istilah baru tentang jenis pemimpin. 
         "Teman-teman..." kata pak sapi kemudian. 
         "Kali ini Pemimpin kita berbeda. Dia amat merakyat. Dia disenangi rakyat. Dia cerdas. Berbudi luhur. Dia mau mendengar keluhan seluruh warganya. Dia adil tidak pandang bulu siapa salah akan dihukum. Coba lihat sungai di depan kita ! Dulu sungai ini kotor dan berbau, tetapi berkat pemimpin kita maka sungai ini menjadi bersih, ikan-ikan bisa berenang bebas tanpa takut meminum air polusi dan kini kita bisa berenang di sini lagi, khan?"
          Semua hewan membenarkan apa yang dikatakan pak sapi.  Bersihnya sungai adalah salah satu bukti nyata kepemimpinannya.
         "Teman-teman....sebentar lagi kita juga akan menikmati hari dimana kita bebas berjalan di jalan raya tanpa takut menghirup polusi asap. Hari itu tidak ada lagi produksi asap dari kendaraan bermotor. Hari itu semua kendaraan bermotor tidak boleh berkeliaran berjalan di jalanan. Hari itu diharapkan udara di daerah ini benar-benar bersih. Tidak ada asap polusi yang ada di udara kita. Dan yang terpenting kita bebas bermain di jalan raya, bebas berjalan-jalan di jalan raya. Kita hanya diperkenankan naik sepeda. Hari itu kita akan menikmati kedamaian dan bersihnya udara."
          "Horeeee....horeeee....horeeee......kita bebas berjalan-jalan di jalan raya tanpa takut diserempet kendaraan bermotor. Kita bebas berjalan di jalan raya tanpa takut ditabrak mobil. Horeeee...horeee...."
          "Lalu kapan itu akan dilaksanakan , Pak Sapi?" tanya beruang.
          "Pelaksanaannya disesuaikan dengan hari bebas polusi dunia yaitu setiap tanggal 22 September"
          "Horeee....kita akan keliling kota sambil naik sepeda saja, Pak Sapi," kata pak Kambing.
           "Horeee...wah enaknya diadakan setiap hari saja , Pak Sapi agar kita bisa sehat karena setiap hari udara menjadi bersih dan bebas polusi."
           "Wuahh...ya nggak bisa setiap hari, pak Jerapah," kata pak sapi.
           "Memang seharusnya setiap hari kita seminimal mungkin mengurangi asap polusi. Namun, kasihan juga dengan mereka yang menggunakan alat bermotor untuk aktifitas sehari-hari. Sehari tanpa polusi saya kira sudah mewakili dan memberi kesadaran bahwa memang udara yang bebas polusi sangat menyenangkan. Dan kita setidak-tidaknya menjadi sadar bahwa udara yang bersih itu adalah tanggung jawab semuanya."
            "Benar, pak sapi! MENJADIKAN UDARA BERSIH DAN BEBAS POLUSI ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA TANPA TERKECUALI. Dan bila udara bersih bebas polusi maka kita juga yang merasakan kebaikannya."
            "Pak sapi, aku ingin bersepeda keliling kota di hari bebas polusi. Dan aku ingin mengajak semua teman-temanku. Bolehkan, Pak?" kata si kambing.
           "Iyaa...silahkan...silahkan kalian mau melakukan aktifitas apa saja di jalan raya atau dimanapun berada. Kalian akan bisa menikmati udara yang bersih tanpa ada polusi udara. Dan kalian pasti akan merasakan betapa nikmatnya udara pemberian Tuhan ini apabila tanpa diganggu atau tanpa tercemar oleh polusi."
            Dan semua hewan gembira dan tidak sabar ingin menikmati hari bebas polusi yang diselenggarakan oleh pemimpin baru mereka yang bukan pemimpin SOJAM lagi..
           "Hooreee....kita siap-siap menyambut hari bebas polusi dunia setiap tanggal 22 September...."






Thursday, October 31, 2013

RAJA BIJAKSANA DAN 3 RAKYATNYA (oleh : aguskarianto)

ilustrasi : aguskarianto
        Ada sebuah kerajaan dipimpin seorang raja yang bijaksana dan adil. Dia enggan menggunakan kekayaan kerajaan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Seluruh harta kekayaan kerajaan digunakan untuk memakmurkan rakyatnya. Sehingga tidak heran, seluruh rakyat senantiasa menaruh hormat dan kagum kepada sang raja dan keluarganya. Dan tidak heran seluruh titah raja senantiasa dipatuhi dan dilaksanakan dengan ikhlas oleh rakyatnya.
        Suatu hari, baginda raja ingin menguji kesetiaan rakyatnya. Maka diutuslah seorang hulubalang untuk memanggil 3 orang rakyat yang telah dipilih secara acak oleh sang raja. Tidak lama kemudian, datanglah 3 orang rakyat yang dimaksud. Ketiga rakyat yang  dipanggil sang raja beranggapan bahwa tentu sang raja akan memberi hadiah yang istimewa kepada mereka, karena sang raja begitu dermawan kepada rakyatnya.
        "Assalamu'alaikum, rakyatku," sapa sang raja kepada ketiga rakyatnya yang telah berada di hadapannya.
        "Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, paduka. Kami bertiga menghaturkan salam hormat," jawab ketiganya serentak.
        "Hemmm...terima kasih kalian telah memenuhi undanganku. Aku memanggil kalian karena ingin memberi tugas untuk mengambilkan buah-buahan yang ada di wilayah kerajaan ini. Apa kalian mau mengerjakannya?"
        "Waaah... dengan senang hati hamba akan mengerjakannya, paduka," jawab ketiganya.
         Baginda raja senang mendengar jawaban yang tulus dan kesanggupan rakyatnya.
         Lalu sang raja memerintahkan seorang prajurit mengambilkan 3 buah keranjang besar.
        "Nah, masing-masing dari kalian harus memenuhi keranjang tersebut dengan aneka macam buah-buahan yang ada di wilayah kerajaan ini. Bila tugas kalian telah selesai maka bawalah buah-buahan tersebut ke hadapanku. Kalian mengerti?"
         Ketiga rakyatnya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu mereka pergi dengan membawa keranjangnya masing-masing.
         Ternyata, ketiga rakyatnya memiliki pemikiran yang berbeda terhadap tugas yang diembannya. Ada yang menganggap bahwa tugas sang raja adalah suatu kehormatan baginya, sehingga dia harus melaksanakan dengan senang hati dan  penuh keikhlasan serta berusaha mempersembahkan aneka macam buah berkualitas kepada raja mereka. Rakyat kedua menganggap perintah itu biasa saja, sang raja tentu tidak akan memperhatikan dan tidak mungkin akan menghitung buah yang dia kumpulkan. Bukankah sang raja telah makmur dan kaya-raya, tentu tugas ini hanya sekedar menguji kesetiaan saja. Oleh karena itu, ia sembarangan memetik  buah-buahan untuk sang raja. Buah-buahan mentah maupun yang sudah hampir busuk dia masukkan ke keranjang. Bahkan dia menata buah ke dalam keranjang juga sembarangan, tidak tertata. Selain itu. agar keranjangnya nampak menarik di hadapan sang raja maka dia sengaja menaruh buah-buahan yang segar dan masak di lapisan atas keranjangnya. Dan rakyat yang ketiga  beranggapan bahwa tugas dari sang raja adalah sebuah penghinaan baginya. Dia sudah merasa hidupnya enak, kaya. semua serba ada tetapi sekarang disuruh  mengambilkan buah buat si raja. Bukankah kalau sang raja ingin makan buah-buahan tinggal beli di pasar semua tentu ada. "Harta kerajaan khan banyak," pikir rakyat ketiga ini. Oleh karena itu, dia sengaja melaksanakan perintah raja dengan penuh kemalasan dan sembarangan. Dia ingin secepatnya memenuhi keranjangnya agar segera bisa mengakhiri pekerjaannya. Oleh karrena itu, dia  mengisi keranjangnya dengan buah-buahan yang asal petik saja. Tidak peduli buah masak ataupun buah masih muda ia masukkan ke keranjangnya. Dia senantiasa bekerja dengan ngedumel. Menggerutu. Tidak ikhlas dalam mengerjakan tugas. Apapun jenis buah yang ada di hadapannya dia masukkan ke dalam keranjang. Bahkan buah-buahan yang beracunpun dia masukkan keranjangnya juga. Dia sengaja melakukan hal itu karena ingin membalas kesewenang-wenangan sang raja kepadanya.
          Dan sore hari, ketiga rakyatnya telah mengisi seluruh keranjangnya dengan bermacam-macam buahan sesuai dengan yang dipesan sang raja. Mereka bersama-sama menghadap sang raja.
         "Wuah...kalian memang benar-benar rakyatku yang setia dan taat terhadap perintah raja. Aku kagum dengan ketaatan kalian. Nah..karena bekal kalian sudah banyak maka aku perintahkan kepada para prajurit untuk membawa kalian menempati pulau-pulau terpencil yang telah disiapkan kerajaan. Pulau itu dihadiahkan kepada kalian bertiga. Disana tidak ada makanan secuilpun. Oleh karena itu, selama di pulau tersebut kalian hanya dibekali dengan sekeranjang buah-buahan yang telah kalian kumpulkan," demikian perintah sang raja. Lalu para prajurit membawa mereka menyeberangi pulau untuk ketiga rakyatnya.
          Betapa terkejutnya ketiga rakyatnya mendengar titah sang raja. Sang raja memang telah menguji keikhlasan rakyatnya dalam mengabdi kepada rajanya. Perintah raja harus dilaksanakan.
         "Jadi semua buah ini untuk hamba paduka?!" kata mereka. Dan ketiga rakyatnya menyambut keputusan raja dengan raut wajah yang berbeda.
          Rakyat yang benar-benar ikhlas bekerja dan berusaha mempersembahkan kualitas terbaik dalam pengabdiannya maka akan merasakan kenikmatan dengan jerih payahnya untuk dirinya sendiri. Sementara rakyat yang menganggap biasa saja perintah sang raja maka akan menyesal karena tidak serius dan asal-asalan melaksanakan perintah sang raja. Sedangkan rakyatnya yang merasa perintah sang raja adalah sebuah penghinaan baginya dan melakukan tugas sembarangan maka akhirnya akan merasakan betapa sengsaranya hidup dengan bekal yang tidak berkualitas dan bekal yang terkesan asal-asalan.
         "Sebenarnya Aku tidak butuh dengan hasil pekerjaan kalian karena aku sudah kaya dan tidak membutuhkan semua itu. Aku memerintahkan kalian mengerjakan tugas karena aku ingin melihat sampai sejauh mana kualitas dan ketulusan pengabdian kalian kepadaku," kata sang raja sambil menatap ketiga rakyatnya yang berjalan pergi bersama para prajurit menuju pulau terpencil bagi ketiganya.


selesai,-

Saturday, October 26, 2013

KISAH SI KATAK DAN SI BELALANG (oleh : aguskarianto)

illustrasi : agus karianto

        

          Siang itu, kerajaan binatang sedang terjadi huru-hara. Seorang raksasa telah mengobrak-abrik seluruh desa. Tidak peduli rumah si kaya atau pun si miskin semua dirusaknya. Sarang-sarang binatang ikut dirusak pula. Seluruh makanan penduduk dia lahap sampai habis. Sumber air minum dia minum sampai habis juga. Akhirnya sumber makanan dan minuman di desa semakin menipis. Rakyat dan hewan-hewan semakin menderita karena kekurangan makanan dan minuman.
        Setiap hari si raksasa senantiasa mengejar-ngejar rakyat ataupun hewan-hewan. Dia tidak segan-segan melukai siapa saja yang ditemuinya. Dia merasa seolah-olah hanya dia sendiri yang bisa berkuasa di kampung yang sedang didudukinya. Apapun yang dilakukannya tidak ada yang berani memprotesnya. Rakyat dan hewan-hewan semakin marah dan resah melihat ulah si raksasa.  Namun mereka tidak bisa berbuat apa apa. 
       Akhir-akhir ini rakyat dan para hewan semakin geram dengan ulah si raksasa. Mereka marah karena si raksasa telah menyebarkan racun kepada seluruh rakyat dan hewan-hewan. Siapa saja yang terkena racun si raksasa maka seketika matanya terasa pedih dan akhirnya menjadi buta. Setiap pagi si raksasa senantiasa berjalan ke sudut-sudut kampung untuk mencari sasaran jadi korbannya. Rakyat dan hewan-hewan yang menjadi buta semakin resah dan sedih karena sekarang mereka tidak bisa berakitifitas lagi. Mereka tidak bisa bekerja mencari makan untuk anak-anaknya. Mereka hanya bisa berharap pertolongan dari yang maha kuasa agar ada seseorang yang bisa membebaskan penderitaan mereka.
      Siang itu, ada seekor katak  yang selamat dari racun si raksasa. Dia sedih melihat kampungnya semakin sepi karena penduduknya menderita buta. Dia sebenarnya ingin menolong mereka, namun karena tubuh  si katak kecil sehingga dia agak ragu untuk bisa melawan si raksasa sendirian. "Sekali diinjak pasti aku akan tewas di bawah kaki si raksasa," gumam si katak. "Tapi kalau bukan aku lalu siapa lagi  yang bisa menolong mereka? Kokon katanya penawar racun si raksasa tersimpan di dalam mulutnya. Aku harus bisa membuat dia membuka mulutnya agar penawan racun itu keluar. Aku haris bisa menggelitik tubuhnya agar mulutnya terbuka. Tapi mana aku sanggup hinggap di tubuhnya yang tinggi besar begitu?"
      “Assalamu'alaikum, teman-teman," sapa katak .
      "Wa'alaikumussalam warohmatullahiwabarokatuh...wah mendengar cara bicaranya... apakah kau si katak?" jawab si kudanil. "Kau masih selamat dan tidak buta, kawan?"
       "Alhamdulillah, kawan," jawab si katak. "Aku kebetulan memiliki kelopak mata yang besar yang bisa melindungi mataku saat si raksasa itu menyebarkan racunnya. Akhirnya aku selamat."
       "Tolonglah kami, Katak...tolonglah kami...tolonglah engkau cari obat penawar racun mata ini," 
       "Jangan khawatir, kawan..aku akan menolong kalian. Namun bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan penawar racun yang tersimpan dalam mulut si raksasa itu? Tubuhku amat kecil. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mengalahkan si raksasa itu?  apa yang bisa aku perbuat?"
       Dan semua hewan-hewan terdiam. Mereka tidak bisa menyalahkan sikap si katak yang takut menghadapi si raksasa. Mereka sadar bahwa tubuh si katak amat kecil dibandingkan dengan tubuh si raksasa. Akhirnya mereka menjadi putus harapan. Mereka pasrah dengan penderitaan yang dialaminya saat ini.
      Namun di tengah kebingungan mereka menyusun rencana untuk mengalahkan si raksasa, tiba-tiba majulah seekor belalang  buta yang memberanikan diri ingin bekerjasama dengan si katak untuk melawan si raksasa.
     “Aku mau melawan si raksasa.” kata si belalang buta
     “Hah? si belalang buta akan melawan si raksasa? Gila !”
     “Aku sebelumnya sudah menduga kalau kalian akan meragukan kemampuanku. Memang tubuhku kecil namun aku memiliki lompatan yang bagus daripada kalian. Kalau kita mengandalkan tenaga  tentu siapapun akan tidak sanggup menghadapi si raksasa.  Kita harus menggunakan akal untuk bisa mengalahkan si raksasa itu. Oleh karena itu aku akan bekerjasama dengan si katak untuk melawan si raksasa. "
     “Wah benar. Lompatanmu sangat jauh. Dan pasti kamu bisa secepat kilat mengalahkan si raksasa. Tapi bagaimana caranya?” kata pak sapi.
      “Lalu bagaimana kamu bisa melawan si raksasa. Bukanlah matamu juga buta, kawan?” tanya pak sapi.
       “Begini, Pak sapi. Si katak harus membawaku mendekati mulut si raksasa. Dan si katak harus mengarahan tubuhku tepat ke kepalanya. Nah aku usahakan hanya dengan sekali lompat aku harus bisa hinggap di mulut si raksasa. Bagaimana kamu sanggup, katak?”
     “Wuah...ide yang cemerlang. Ayo kita laksanakan, kawan. Mari kamu naik ke kepalaku. Biar aku membawa kamu mendekati mulut si raksasa."
         Lalu si kodok melompat-lompat mendekati tubuh si raksasa sambil membopong tubuh si belalang di atas kepalanya. Agar si belakang bisa sedekat mungkin mencapai mulut si raksasa maka si katak membawanya menaiki pohon yang tinggi setinggi tubuh si raksasa.
      “Okey...kita sekarang sudah setinggi si raksasa. Dan aku sudah mengarahkan tubuhku tepat ke arah kepala si raksasa. Okey...siap... kamu siap melompat, kawan. satuuu...dua...tiii..gaaaa!!!”
      Dan....”Staaaappppppppp...” dengan sekali lompatan si belalang sudah menempel ke mulut si raksasa yang sedang tidur. Si belalang segera menggigit mulut si raksasa kuat-kuat. Selesai menggigit bagian mulut, lalu si belalang melompat ke tubuh raksasa yang yang lain dan mengigit sekuat tenaga juga. Setelah itu dia  melompat ke bagian tubuh raksasa yang lain dan menggigit sekuat tenaga juga. Demikian seterusnya. Si raksasa terbangun. Dan dia berteriak sekencang-kencangnya karena  merasakan tubuhnya kesakitan digigit si belalang. ”Aduuuhhhh...sakiit...tolooongg...tolooooooong..sakiiitttt.”
        Si raksasa lupa saat mulutnya terbuka dan meraung-raung kesakitan maka obat penawar racun kebutaaan yang disimpan di mulutnya tertumpah. Hal ini tidakdisia-siakan oleh seluruh rakyat dan seluruh hewan untuk meraihnya demi menyembuhkan kebutaan matanya. Dalam sekejap mata semua rakyat dan seluruh hewan matanya sembuh seperti semula.
      “Horeee...horeee..hooreee... alhamdulillah... akhirnya kita bisa melihat kembali...Hidup belalang dan si katak...” teriak seluruh rakyat dan hewan.
        Mendengar teriakan seluruh rakyat dan seluruh hewan bahwa mereka bisa melihat kembali maka si raksasa menjadi ketakutan. Tanpa pikir panjang ia berusaha lari sekencang-kencangnya menjauh sambil merasakan tubuhnya kesakitan digigit si belalang  di sekujur tubuhnya.


selesai,-

moral cerita : kesuksesan itu akan terasa mudah dan indah apabila kita bisa bekerjasama dengan
                            orang lain.

Tuesday, September 3, 2013

KISAH SIPUT DAN KURA-KURA (oleh : aguskarianto)

illustrasi : aguskarianto
         Siang itu, di pinggir sungai nampak seekor siput sedang duduk termenung. Berkali-kali dia menyesali  nasibnya. Dia sering menggerutu memikirkan bentuk tubuhnya yang berbeda dengan teman-temannya. Kebanyakan teman-temannya  bisa bermain sejauh-jauhnya, bisa lari kencang, bisa berlompat-lompatan, namun dirinya tidak bisa melakukannya. Jangankan bisa pergi ke seberang lautan, untuk berlari cepat saja dirinya tidak mampu. Apalagi gumpalan cangkang yang ada di punggungnya  menambah sulit dalam berjalan.
        "Uhhhh....gara-gara cangkang yang ada di punggungku ini menjadikan aku lambat berjalan....uuuhhhh," kata si siput ngedumel. "Kenapa aku dilahirkan dengan bentuk tubuh seperti ini? Kenapaaa? Tidak adiiilllll...Tuhan benar-benar tidak adiilll....huhuhuhuhuhu...aku jadi benci ..!!"
         Begitulah, setiap hari si siput senantiasa menyesali diri sendiri. Dia senantiasa menyalahkan sang pencipta yang telah membentuk tubuhnya seperti itu. Dia tidak mengetahui kenapa Allah swt memberi bentuk tubuh seperti itu. Dia tidak mengetahui kelebihan dirinya dengan bentuk tubuh seperti itu. Sesungguhnya setiap Allah swt menciptakan makhluk-Nya tentu dibekali dengan sebuah potensi besar yang tidak dimiliki makhluk yang lain.
         Siang itu, datanglah si kura-kura. Badan si kura-kura basah kuyup setelah seharian  berenang di sungai.
         "Assalamu'alaikum. Siput. Hohohohoho....kamu masih menghabiskan waktumu dengan  menyesali diri diri yaaa?" sapa si kura-kura. Si siput tidak menghiraukan sapaan kura-kura. Dia hanya diam. Mulut si siput digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan. Dia tidak mau berbicara dengan siapapun.
         "Wuahh...ada  yang mengucapkan salam kok malah tidak dijawab...dosa itu," lanjut si kura-kura sambil melihat siput yang masih terdiam.
         "Wa alaikumussalam !" jawab si siput ketus.
         "Hehehehe...jawab salam kok tidak ikhlas begitu...tapi nggak apa-apalah lumayan daripada gak jawab," kata si kura-kura. "Ada apa sih kok kamu setiap hari bersedih dan senantiasa berkeluh kesah... sepertinya kamu tidak mensyukuri pemberian Allah swt dengan tubuhmu yang cantik begitu?"
         "Apa katamu, kura-kura?" tanya si siput. "Kamu bilang aku cantik? Cantik apanya? Aku menyesal memiliki tubuh seperti ini...aku sedih memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan kalian...aku sediiihhhh...sediiihhhh."
          Si kura-kura tersenyum mendengar jawaban si siput.
          "Hei, ada teman sedih kok malah senyam-senyum begitu !"
          "Sebab kamu lucu, siput" jawab kura-kura. "Jadi selama ini kamu sedih karena memiliki tubuh seperti itu? Kamu sedih karena merasa tubuhnya jelek? Kamu sedih karena menganggap bahwa dirimu tidak memiliki potensi besar seperti teman-teman kita? Kamu sedih karena Allah swt menciptakan dirimu dengan tubuh seperti itu?"
          "Nah, kamu sudah tahu alasannya khan?"
          "Wah..wah..wah...pikiranmu picik, kawan," kata kura-kura.
          "Apa !? Picik katamu!? ini realita khan..ini kenyataan khan... bentuk tubuhku seperti ini?"
          "Benar kawan, bahwa tubuhmu diciptakan seperti itu tentu sang pencipta sudah memikirkan....sudah berpikir jauh ke depan...kamu pasti memiliki potensi  yang tidak dimiliki teman-teman kita...hanya saja karena kamu senantiasa berkeluh kesah sehingga waktumu menjadi mubadzir...sis-sia...kamu jadi terlambat mengetahui bakat dan kemampuan besar yang kamu miliki."
          "Ah...sok tahu kamu!" bentak si siput kepada si kura-kura.
          "Tapi benar, kawan. Kamu sebenarnya memiliki  keunggulan  yang tidak dimiliki teman-teman kita."
          Si siput terdiam. Ia terus merenungkan kata-kata si kura-kura. "Ucapan si kura-kura banyak benarnya juga," kata si siput dalam hati. "Selama ini waktuku sia-sia dan terbuang percuma. Aku terlalu banyak berkeluh kesah dengan kelemahan diriku. Aku tidak pernah memikirkan  bakat dan keunggulan diriku sendiri."
          Belum sempat si siput menyampaikan rasa terima kasih atas saran si kura-kura, tiba-tiba di kejauhan nampak seekor semut hitam berteriak-teriak karena  anaknya terhanyut di aliran sungai. Secepat kilat si siput menuju aliran sungai. Sesampai di pinggir sungai, lalu dia mengangkat tinggi-tinggi cangkangnya menahan derasnya air sungai. Ketika dia melihat anak semut hitam, segera tubuhnya bergerak untuk memasukkan anak semut hitam  ke dalam cangkangnya.
         "Alhamdulillah....akhirnya aku berhasil menyelamatkannya," kata si siput kegirangan.
         "Horeee...horeee...horeee.....hidup si pahlawan kita.. hidup Siput....hidup si pahlawan penyelamat kita...horeee," teriak semut-semut hitam lainnya yang ikut menyaksikan keberanian si siput melawan arus sungai dengan cangkangnya untuk menyelamatkan anak semut.
          "Terima kasih, Siput....terima kasih....entah bagaimana aku harus membalas jasa baikmu ini," kata pimpinan si semut hitam.
         "Ahhh...terima kasih kembali, teman-teman," kata si siput. "Bukan aku yang telah menyelamatkan kalian. Namun aku hanyalah makhluk yang menjadi sarana Allah swt untuk menyelamatkan kalian."
         "Benar Siput, tetapi bagaimanapun juga saat ini kamu sudah berhasil menyelamatkan anakku...kamu adalah pahlawanku ...hidup Pak Siput...hidup pahlawan kita...."
         Si siput terharu mendengar ketulusan ucapan pimpinan semut hitam. Air matanya menetes di pipinya. Dia terharu menerima sanjungan teman-temannya. Kini dia sadar, ternyata di dunia ini setiap makhluk  memiliki keunggulan masing-masing. Setiap makhluk yang diciptakan Allah swt pasti memiliki potensi, keunggulan dan bakat yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain. Kalau kita senantiasa berkeluh kesah dengan kekurangan kita maka tidak akan menemukan potensi, keunggulan dan bakat yang telah dianugerahkan Allah swt kepada kita.


moral cerita : jangan iri dengan kelebihan orang lain sebab Allah swt menciptakan Makhluk-Nya
                     pasti  berguna dan memiliki kelebihan dan bakat  yang berbeda-beda.

          


Monday, September 2, 2013

AKIBAT SI ANGSA JAGO GOSIP (oleh : aguskarianto)

illustrasi : agus karianto
      Konon, di sebuah kerajaan binatang ada sepasang Angsa laki-laki dan perempuan yang punya kebiasaan jelek yaitu suka gosip dan selalu ingin tahu urusan teman. Nyaris, seluruh temannya pernah menjadi bahan gosipnya. Selain bergosip kedua angsa ini sering membuat fitnah yang disebarkan kepada siapa saja yang ditemuinya. Mereka tidak sadar bahwa fitnahan yang tidak ada barang bukti bisa melukai hati teman-temannya. Bisa menjatuhkan harga diri teman yang difitnah. Bukankah fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
       Seluruh hewan merasa jengkel dengan ulah sepasang angsa ini. Namun mereka kurang berani mengambil tindakan sendiri karena takut dikeroyok mereka berdua. Konon, si angsa memiliki sepasang sayap yang kuat dengan ukuran bulu-bulu yang panjang dan berlapis lilin. Benda sebesar apapun kalau dihempaskan dengan kedua sayapnya maka akan terlempar jauh.
        Siang itu, nampak si Penyu menangis di pinggir sungai. Di kejauhan nampak si kura-kura mendekati sahabatnya yang sedang menangis. Si kura-kura ingin mengetahui mengapa sahabatnya menangis.
        "Subhanallah, jadi sekarang kamu yang jadi bahan gosip dan fitnahnya?" tanya si kura-kura kepada si penyu.
        "Benar, kawan," jawab si penyu. "Mereka memfitnah kita kalau kita ini adalah hewan yang terlalu banyak dosa sehingga tubuh kita diberi beban berat agar kita tidak banyak melakukan dosa lagi. Bukankah sejak lahir kita diciptakan seperti ini. Bukankah bentuk tubuh kita memang sudah dikehendaki Allah swt seperti ini ?"
        " Wah !Keterlaluan sekali mereka! Kita bersyukur diciptakan Allah swt seperti ini, tapi mengapa mereka kok sewot dengan menyebarkan gosip murahan seperti itu ? Kita senantiasa bersyukur kok dikatakan banyak dosa? Seharusnya merekalah yang suka bergosip dan menyebarkan fitnah yang berdosa. Menyakiti hati teman itulah perbuatan dosa. Menjengkelkan hati teman itulah perbuatan dosa."
       "Kita harus memberi pelajaran mereka !!" lanjut si kura-kura
       "Benar....kita harus memberi pelajaran agar mereka menghentikan perbuatannya. Meskipun banyak teman kita takut menghadapi sepasang angsa itu, namun kalau kita bersatu melawannya tentu bisa mengalahkannya juga."
        Kemudian si kura-kura dan si penyu mulai menyusun siasat untuk bisa bertarung dan menghadapi sikap jelek sepasang angsa. Mereka sepakat akan menantang si angsa bertarung  di hutan bakau.
         Pagi hari, si kura-kura dan si penyu menemui si angsa yang kebetulan ada di pinggir pantai.
         "Assalamu'alaikum angsa," sapa si kura-kura dan si penyu. Namun kedua angsa tidak menjawab salamnya. Bahkan keduanya mencibir atas kedatangan si kura-kura dan si penyu. Mereka berlagak sombong dan angkuh.
         "Ada apa kalian menemuiku, heh?" bentak si angsa.
         "Aku minta pertanggungjawaban atas fitnahanmu kepada kami," jawab kura-kura.
         "Hahahahaha....pertanggungjawaban? Pertanggungjawaban apa, hewan jelek!?"
         "Ya atas tuduhanmu itu."
         "Ogahhh aahhhh....tak uuk...yaaa"
         "Hei, angsa! Kalau begitu kau menantang kami untuk melakukan kekerasan ya? Ayo kalau berani hadapi kami berdua!" tantang kura-kura dan penyu.
        Kedua angsa saling tertawa mendengar tantangan berkelahi si kura-kura dan si penyu. Mereka nampak meremehkan kekuatan fisiknya. Mereka merasa takabur dengan kekuatan sepasang sayap di tubuhnya. "Dengan sekali kibasan tubuh si kura-kura dan si penyu akan tewas," pikir kedua angsa.
          "Baiklah...ayoooo....serang aku dulu kawan....," kata si angsa meremehkan sambil tubuhnya melayang ke sana kemari menghindari kejaran si kura-kura dan si penyu.
          Ketika kedua angsa meledek dengan menjulurkan lehernya ke arah si kura-kura dan si penyu, maka tiba-tiba si kura-kura dan si penyu menggigit mulut mereka dan menghimpitnya diantara kedua cangkang kura-kura dan penyu. Kedua angsa kaget dan kesakitan karena mulutnya terhimpit cangkang kura-kura dan penyu. Mereka lari tunggang langgang ke sana kemari sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya meronta-ronta agar si kura-kura melepaskan gigitannya, namun usahanya tidak berhasil. Kedua angsa berusaha terbang di antara pohon-pohon bakau di tepi pantai sambil memukul-mukulkan tubuh kura-kura dan penyu ke ranting-ranting pohon bakau. Namun semakin kuat usaha kedua angsa berusaha melepaskan diri dari gigitan si kura-kura dan si penyu justru gigitan si kura-kura dan si penyu semakin kuat. Kedua angsa akhirnya mencari celah-celah pohon, lalu meletakkan lehernya di sela-sela pohon. Kemudian dengan sekuat tenaga mereka berusaha menarik lehernya kuat-kuat agar si kura-kura dan penyu bisa melepaskan gigitannya. Dan ternyata usaha sepasang angsa berhasil. Gigitan si kura-kura dan si penyu mulai melemah dan akhirnya sepasang angsa bisa membebaskan diri dari gigitan mereka.
          Sepasang angsa merasa gembira bisa lepas dari gigitan si kura-kura dan si penyu. Mereka tertawa terbahak-bahak dan akan berteriak meluapkan kegembiraannya. Namun mereka terkejut saat mulutnya tidak bisa digunakan untuk mengucapkan kata sepatah katapun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya teriakan : NGAAAKKKK.....NGAAAAAAKKKK.....NGAAAKKKK.....NGAKKK...NGAKKK...
Ternyata pada saat mereka berusaha melepaskan gigitan si kura-kura dan si penyu mereka terlalu kuat menarik lehernya dari himpitan dahan pohon sehingga kini leher kedua angsa menjadi panjang dan sulit kembali seperti semula.
Mereka akhirnya menyesali diri.
          "Mungkin ini akibat perbuatan mereka suka bergosip dan suka memfitnah teman-temannya. Kini leherku jadi panjang dan sekarang aku tidak bisa bergosip dan memfitnah teman-teman lagi," kata sepasang angsa sambil  meneteskan air mata.


moral cerita : jangan suka bergosip dan memfitnah teman karena bisa berakibat fatal terhadap
                     diri sendiri.

     

Wednesday, December 5, 2012

KISAH SANG BANGAU DAN KODOK BUDUK (oleh : aguskarianto)

Gambar : agus karianto




          Dahulu kala, sang Bangau dan Kodok buduk berteman akrab. Kemanapun sang bangau pergi tentu si Kodok buduk turut serta. Dimana ada sang bangau pasti di sana ada si kodok buduk. Dalam hal pembagian makanan mereka senantiasa berbagi bersama. Setiap kali sang bangau mendapatkan makanan maka si kodok buduk akan mendapatkan jatah makanan. Hal ini berlangsung setiap hari. Namun, sang bangau terkadang merasa jengkel karena selama ini si kodok buduk tidak pernah berbagi makanan dengan sang bangau. Si kodok buduk merasa bahwa tanpa harus susah-susah bekerja dia senantiasa mendapat jatah makanan dari sang bangau. Akhirnya, lama kelamaan kebiasaan ini membuat si kodok buduk menjadi pemalas. Dia senantiasa menggantungkan hidupnya kepada sang bangau.
          Sang bangau sering mengingatkan kodok buduk agar tidak menjadi pemalas. "Kamu harus mencoba berusaha mencari rejeki sendiri. Berapapun besarnya rejeki yang kau dapat itu lebih mulia daripada kamu menjadi pemalas dan menggantungkan hidupmu pada pihak lain," demikian antara lain nasehat sang bangau kepada si kodok buduk. Namun semua nasehat sang bangau sama sekali tidak didengarkan si kodok buduk. Bahkan semakin lama si kodok buduk makin menjadi pemalas. Dia lebih suka tidur-tiduran di rumah sambil menunggu jatah makanan dari sang bangau. Hal ini membuat sang bangau menjadi jengkel. "Aku akan memberi pelajaran  si kodok buduk," pikir sang bangau.
          Siang itu, sang bangau sengaja tidak pulang ke rumah. Setelah mendapatkan beberapa ikan di tambak, makanan itu sengaja dihabiskan dipematang tambak sampai tidak tersisa. Ketika menjelang petang, sang bangau sengaja pulang ke rumah tanpa membawa makanan sepotongpun . Nah, saat melihat sang bangau pulang membuat si kodok buduk merasa senang sebab sejak pagi perutnya merasa lapar. Tidak ada sepotong makananpun yang masuk ke perutnya. Namun betapa kecewanya si kodok buduk karena ternyata sang bangau pulang tidak membawa makanan sepotongpun.
         "Aduuuhhh....kamu pulang kok tidak membawa makanan sepotong pun, sih? Perutku lapar nihhh!" kata si kodok buduk.
         "Iya...musim kemarau begini makanan semakin sulit didapat," jawab sang bangau.
         "Tapi...di tambak khan banyak ikan," kata si kodok buduk.
         "Iya ada ikan....tapi aku sulit menangkapnya," jawab sang bangau sekenanya.
         "Wah...kamu mulai bohong kepadaku, ya?" tanya si kodok buduk penuh kecurigaan.
         "Hei...rupanya kamu sudah tidak percaya padaku lagi, ya," jawab sang bangau. "Ya sudah kalau begitu. Aku capek...mau tidur saja."
         "Lalu bagaimana dengan perutku yang kelaparan ini, kawan? Aku makan apa hari ini? Di rumah tidak ada sepotong makanan pun. Aduuh.....lapar....lapaarrr..." teriak si kodok buduk.
Namun sang bangau pura-pura tidak mendengar keluhan temannya. Ia terus pergi tidur.

                                                                             ***
         Keesokan harinya, sebelum matahari terbit sang bangau sudah keluar rumah untuk mencari makanan lagi ke tambak. Si kodok buduk masih tidur. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sang bangau telah  meninggalkan rumah. Ketika si kodok buduk terbangun, dia berteriak-teriak memanggil sang bangau.
        "Bangau...bangauuuu....kalau kamu pergi jangan lupa pulangnya membawa makanan yang banyak ya!!!" teriak si kodok buduk.
         Tentu saja teriakan si kodok buduk tidak bisa didengar sang bangau yang telah jauh meninggalkannya. Kini sang bangau sedang menikmati sarapan berupa ikan segar di tambak. Dan kali ini pula ia tetap menghabiskan makanannya di pematang tambak. Dia sengaja untuk yang ke sekian kalinya tidak membawa sepotong makananpun saat pulang ke rumah.
Dan untuk yang kesekian kalinya, si kodok buduk merasa jengkel karena saat sang bangau pulang tetap tidak membawakan makanan untuknya. Perutnya semakin kelaparan. Tenaganya semakin lemah.
         Keesokan harinya, si kodok buduk sengaja  mengikuti kemana sang bangau mencari makanan. Ketika sang bangau menuju pertambakan, ia tetap mengawasinya dari kejauhan. Dan betapa terkejutnya si kodok buduk, ternyata sang bangau selama ini telah berbohong kepadanya. Sang bangau ternyata dengan mudah mendapatkan makanan dan ia selalu menikmati sendiri ikan-ikan segar yang di dapat di pematang tambak. "Waaaahhh....tidak bisa dibiarkan hal ini terjadi. Aku selama ini telah dibohonginya. Aku harus mencari keadilan. Aku mau melaporkan pencurian ikan kepada sang Ratu ikan." kata si kodok buduk sambil berjalan menemui si Ratu ikan.
        "Selamat siang, Ratu Ikan," kata kodok buduk menyapa Si Ratu Ikan.
        "Selamat siang, Kodok Buduk," jawab sang Ratu. "Ada keperluan apa kamu datang kemari?"
        "Begini sang Ratu...aku tadi melihat sang bangau telah mencuri dan memakan anak buahmu. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Sebab wargamu bisa habis dimakan si bangau. Sang Ratu harus segera mengambil tindakan," demikian lapor si kodok buduk

        "Hah...benarkah informasimu itu, Kodok buduk." kata sang Ratu sedikit geram.
        "Benar sang Ratu...aku berani bersumpah," kata si kodok buduk meyakinkan ucapannya
        "Wah...benar katamu, Kodok Buduk. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Sebelum aku pergi ke tempat yang jauh, aku akan mengambil tindakan terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan jagoan-jagoanku yaitu Ikan lele untuk menjaga keamanan ikan-ikan di sana. Dia memiliki dua senjata di mulutnya yang bisa digunakan untuk melukai kaki sang bangau. Tapi kami perlu bantuanmu untuk menyebutkan bagaimana ciri-ciri sang bangau itu, Kodok Buduk?"
        "Begini sang Ratu. Dia memiliki ciri-ciri, antara lain :  bulunya putih, paruhnya panjang, dan ciri khasnya dia memiliki kaki yang ukurannya panjang. Inilah keuntungan dia. Karena dengan dua kaki yang panjang dia bisa berdiri di atas tambak tanpa takut tubuhnya basah."
         "Ooooo itu saja ya ciri-cirinya. Nah. ikan lele, saat kamu menjaga air nanti tolong diperhatikan. Kalau ada dua kaki panjang berdiri di tambak atau di perairan manapun maka segera ambil tindakan. Gunakan saja senjatamu untuk melukainya agar teman-teman kita tidak habis dimakan sang bangau." kata sang Ratu sambil berenang pergi menjauh entah kemana. Namun tanpa mereka sadari, ternyata dibalik pohon bakau Sang Bangau rupanya ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sang bangau hanya bisa tersenyum.Kali ini sang bangau akan memberi pelajaran yang lain kepada si kodok buduk dan para ikan lele.

                                                                            ***
          Si kodok buduk merasa senang sebab kali ini ia memberi pelajaran sang bangau yang telah membohonginya. Oleh karena itu, ia cepat-cepat pergi ke pematang sawah untuk melihat dari kejauhan bagaimana nasib kaki temannya saat berdiri di tambak akan dilukai oleh ikan-ikan lele,sang penjaga air.
         "Ayooo...Bangau silahkan berdiri di tambak...ayo cepattt," gumam si kodok buduk ketika melihat sang bangau akan berdiri di tambak untuk menangkapi ikan-ikan segar.
Namun betapa kagetnya si kodok buduk, ternyata sang bangau saat berdiri di tambak hanyamenggunakan satu kaki saja. Sedang satu kaki yang lain dilipat ke badannya. Dan hal inilah yang membingungkan ikan lele. Sebab selama mereka bertugas menjaga air, tidak menjumpai dua kaki panjang yang masuk bersamaan di tambak. Dan taktik inilah yang membuat sang bangau senantiasa selamat dari serangan para penjaga air.
Sebaliknya si kodok buduk semakin jengkel dan pergi meninggalkan sang bangau untuk mencari makanan sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun.
          Dan sejak saat itu dimanapun berada sang bangau bila mencari makan di perairan senantiasa melipat satu kakinya dan si kodok buduk senantiasa makan hewan kecil apa saja yang ditemuinya tanpa mengharapkan bantuan siapapun lagi.


selesai

sumenep, 5 Desember 2012

moral cerita : Rejeki yang diperoleh dari jerih payah sendiri
                     lebih mulia nilainya
                    daripada mengharapkan
                     belas kasihan orang lain.

Saturday, November 17, 2012

AKIBAT KUCING YANG SERAKAH (oleh : aguskarianto)

Gambar : agus karianto

           Hari masih pagi, matahari belum menampakkan diri. Hewan-hewan masih banyak yang tidur. Namun di kejauhan nampak seekor kucing berjalan tergopoh-gopoh. Ia berjalan sambil membawa ember berisi susu yang diletakkan di punggungnya. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia takut ada teman yang mengikutinya. "Syukurlah tidak ada yang melihatku," kata si kucing dalam hati.
           Ketika si kucing merasa tubuhnya capek ia berniat untuk istirahat. Ia mencari tempat yang aman dari pengamatan teman-temannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti manakala ia berjumpa dengan seekor Kancil yang sedang memeluk sebatang pohon bambu. Si kancil berkali-kali mencoba menggigit pohon bambu, seolah-olah hendak memecahkan batang bambu, namun dilepaskan lagi. Setelah usahanya gagal, si kancil nampak bersedih dan menangis. "Hu hu hu hu....gagal lagi usahaku," demikian rintih si kancil di hadapan si kucing.
           Si kucing merasa iba dan ikut bersedih melihat si Kancil menangis tersedu-sedu. Lalu ia berusaha menyapanya.
           "Hei, kenapa kamu bersedih dan  menangis, Kancil?" tanya si Kucing.
           Si Kancil tidak menjawab, bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. "Huuuhuuuuhuuuhuuuuu."  Sebenarnya tangisan si kancil di hadapan si kucing hanya pura-pura saja. Dia berniat memberi pelajaran si kucing yang terkenal serakah dan suka mencuri susu milik teman-temannya. Si kancil jengkel setiap kali mendengar laporan akan kecurangan si kucing kepada teman-temannya.
           "Wah, si kancil benar-benar bersedih, nih," pikir si kucing. Kemudian si kucing meletakkan ember yang berisi susu di bawah pohon. Dan si kancil masih memegang erat-erat batang pohon bambunya.
           "Hei, Kancil...kenapa kamu bersedih ? Bolehkan aku tahu permasalahanmu?"
           "Heeemmm....wah senang sekali apabila kamu bisa membantuku, Kucing," jawab si kancil.
           "Iya...tapi apa masalahnya?"
           "Begini, kawan," kata si Kancil mulai menyusun siasat. "Malam tadi aku mendapat batang bambu ajaib yang jatuh dari langit. Meskipun bambu ini tidak mempunyai akar namun lihatlah daun-daunnya nampak hijau segar. Pasti di dalamnya ada air ajaib di 6 ruasnya yang membuat daun-daun bambu ini nampak masih hijau segar. Pasti air ajaib itu bisa membuat kita awet muda dan sakti. Oleh karena itu, aku berusaha memecahkannya. Namun usahaku gagal. Aku sedih, kawan."
          "Wah, ada air ajaib yang bisa membuat awet muda? Aku harus bisa merebutnya dari tangan si Kancil," pikir si Kucing. "Dasar si Kancil bodoh. Seharusnya membuka batang bambu dengan benda runcing seperti cakarku ini. Mana bisa memecah batang bambu dengan giginya."
          " Begini saja, Cil," kata si kucing. "Bagaimana kalau batang bambumu ini aku tukar dengan setengah ember susuku?"
          "Hahhh! Ditukar dengan Setengah ember susu? Ogah yaaaa....enak aja satu batang bambu ajaib ditukar setengah ember susu. Kamu tidak adil. Kamu mau enaknya sendiri. Kamu serakah," kata si Kancil sambil terus memeluk batang bambunya.
          "Tapi susu ini masih segar dan lezat lho....kamu tinggal minum saja...enakkk, Cil. Daripada kamu kesulitan memecahkan batang bambu itu? Serahkan saja padaku. Kamu bisa menimati setengah ember susu ini"
          "Ogaaaahhhh.....gak mauuuu....tidak sudiiii....Sekali tidak mau ya tetap tidak mau," kata si Kancil pura-pura bertahan dan menganggap bahwa batang bambunya benar-benar sakti.
          "Kalau begitu...bagaimana kalau aku minta hanya setengah saja batang bambumu dan kita tukar dengan setengah ember susuku. Nah...adil kan?"
          "Ogaaahhh...enak saja bambu ini dipotong separo...kesaktiannya bisa hilang, Cing!"
          Si Kucing makin penasaran dengan sikap si Kancil. Dirinya harus bisa memiliki batang bambu itu bagaimanapun caranya agar dirinya bisa tetap awet muda dan sakti. Kalau dirinya sakti tentu ia bebas berbuat apa saja kepada teman-temannya. Ia bebas memiliki susu milik siapapun tanpa takut terhadap teman-temannya. Dan akhirnya ia nekat ingin menukar seember susunya dengan batang bambu yang dimiliki si Kancil.
          "Begini saja, Cil. Bagaimana kalau batang bambumu itu aku tukar dengan seember susuku ini?"
           Si kancil pura-pura keberatan dengan usul si kucing. Padahal dalam hati ia merasa bahwa kali ini si kucing akan menemui batunya. Kali ini si Kucing akan menerima ganjaran akan keserakahan dan kelicikannya.
          "Kalau itu maumu, aku sih setuju-setuju saja, Cing. Tapi kamu ikhlas nggak menukar susumu dengan batang bambu ini?" tanya si Kancil.
          "Ikhlas, Cil. Ayo mana batang bambumu!" kata si kucing tidak sabar ingin memiliki batang bambu milik si kancil. Dan ia akan segera memecahkannya agar bisa segera meminum air ajaib yang ada di tiap ruasnya. "Aku akan menjadi Kucing Sakti dan senantiasa awet muda. Asyiiikkkk," kata si kucing senang.  
          Kemudian si kancil melepaskan batang bambunya. Setelah Ia meraih seember susu milik si Kucing, lalu ia pergi meninggalkan si kucing sendirian.
          "Horeeee....aku akan menjadi kucing sakti.iiiii!" teriak si kucing. Kemudian ia mengeluarkan cakar-cakarnya. Batang bambu yang ada dihadapannya dicakar-cakar berkali-kali agar bisa pecah. Ia terus berusaha memecahkannya. Akhirnya, setelah dengan perjuangan yang keras ia berhasil memecahkan batang bambu di hadapannya. Namun ternyata air sakti yang diharap-harapkannya ternyata tidak ada. Ia hanya mendapati ruas-ruas bambunya kosong tidak ada apa-apanya. Sedangkan daun bambu yang masih hijau disebabkan pohon bambu masih baru dipotong.
         "Haahhhh! Sialan...mana air sakti itu!!???" teriak si kucing. "Dasar si Kancil pembohong...aku telah ditipunya. Aku telah ditipunya....," kata si Kucing sambil bergegas lari mengejar si kancil yang telah membawa seember susunya.      


selesai

sumenep, 17 Nopember 2012


      

Friday, October 19, 2012

PERSAHABATAN MONYET, KURA-KURA DAN PENYU (oleh : aguskarianto)

          Pagi itu, mentari sekali-kali muncul dan sekali-kali hilang tertutup awan. Sehingga sinar mentari yang menyinari bumi terkadang terang dan terkadang redup. Angin bertiup sepoi-sepoi. Udara pagi hari itu menjadi sejuk. Hal ini membuat si Monyet yang duduk di atas dahan pohon mengantuk. Padahal dia semalaman sudah tidur nyenyak sejak sore hingga menjelang matahari terbit. Namun, rasa kantuk si monyet seketika sirna ketika melihat kedatangan kura-kura dan penyu. Kedua temannya itu membawa sekeranjang kacang tanah. Si monyet merasa keheranan. Hari masih pagi namun kedua temannya sudah membawa sekeranjang kacang tanah. "Wah, ada yang nggak beres, nih," pikir si monyet.
          "Hoiiii....berhenti!" teriak si monyet menghentikan langkah kura-kura dan penyu.
          Kura-kura dan penyu terkejut dengan kedatangan si monyet. Mereka berusaha untuk tidak menghiraukan teriakan si monyet. Mereka terus berjalan. Mereka ingin segera menghindar agar  tidak berurusan dengan si monyet. Mereka ingin segera mencari tempat persembunyian agar si monyet tidak bisa mengetahui keberadaannya. Namun, langkah kaki mereka terlampau kecil dibandingkan si monyet. Dan dengan beberapa lompatan saja si kura-kura dan penyu berhasil dikejar si monyet.
         "Hei...kenapa kamu berusaha menghindar dariku?" tanya si monyet kemudian. "Wah...pasti ada yang tidak beres nih dengan isi keranjang yang kamu bawa."
          Kura-kura dan penyu hanya saling pandang. Mereka enggan berdebat dengan si monyet. Berdebat dengan si monyet tidak ada untungnya. Mereka selalu dikalahkannya. Si monyet selalu ingin menangnya sendiri. Si monyet selalu suka bohong. Kata-katanya sulit dipercaya. Banyak temannya yang selalu menjauhinya. Sifatnya tidak disukai teman-temannya.
         "Pasti kalian mencuri, ya! Pagi-pagi sudah membawa sekeranjang kacang tanah. Pasti barang curian, ya?" tuduh si monyet kepada mereka.
         Mendapat tuduhan si monyet akhirnya kura-kura dan penyu tidak terima. Ia ingin membela diri.
         "Enak saja," jawab kura-kura. "Kamu jangan asal tuduh saja, Nyet! Tuduhanmu itu amat menyakitkan hati kami."
         "Ya tentu saja aku curiga...kalian sepagi ini sudah membawa sekeranjang kacang tanah? Dapat darimana kalian, kalau tidak mencurinya."
         "Wah tuduhan tanpa bukti adalah fitnah, lho! Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, Nyet!"
         "Tapi, benar khan kalian mencuri?!"
         "Nyet !!," bentak si penyu. "Lama-lama aku muak dengan tuduhanmu yang tanpa dasar itu! Kamu sama sekali tidak menghargai kerja kerasku sejak pagi. Kami barusaja datang dari kebun Pak Ahmad. Kami ikut membantu memanen kebun kacang tanahnya. Untuk itulah kami mendapat upah sekeranjang kecang tanah ini. Terserah kalau kamu tidak percaya. Biarkan kami pergi. Jangan ganggu perjalanan kami." kata si penyu lalu melanjutkan perjalanannya.
         "Hei...hei...hei....sebentar dong," kata si monyet sambil berdiri di tengah jalan agar mereka tidak segera pergi. "Bukan maksudku menuduhmu, teman! Namun, aku cuma ingin memastikan. Memastikan darimana kacang tanah itu kalian dapat. Itu saja. Kalau aku tahu cara kamu mendapatkannya, maka aku juga bisa membelamu bila ada teman kita yang ingin merebut kacang tanahmu."
         "Ah...alasan saja kamu, Nyet!" kata kura-kura. "Bilang saja kalau kamu juga menginginkan kacang tanahku, khan?!"
         Si monyet jadi salah tingkah. Ternyata kura-kura bisa mengetahui maksudnya. Namun ia pura-pura bersikap baik hati kepada mereka. Ia berusaha mencari kesempatan untuk bisa mencuri sekeranjang kacang tanah yang dibawa kura-kura dan penyu. Oleh karena itu, kemanapun si kura-kura dan penyu berjalan senantiasa diikutinya dari kejauhan. Cara ini dilakukan agar kedua temannya tidak mengetahui kalau ia ikuti dari jauh.
         Ketika berada di pinggir sungai, si kura-kura dan penyu menghentikan langkahnya. Mereka kelelahan dan ingin istirahat. Di bawah pohon yang rindang mereka merebahkan diri. Sekeranjang kacang tanah mereka apit berdua dengan tujuan bila ada yang mencuri mereka berdua bisa mengetahuinya. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat mereka segera teridur.
        Betapa senangnya si monyet melihat teman-temannya tertidur. "Wah, ada kesempatan membawa kacang tanahnya, nih," pikirnya. Kemudian, si monyet pelan-pelan menghampiri mereka. Ia berusaha memanggil nama mereka. Namun karena kecapekan setelah bekerja rupanya tidur mereka teramat pulas. Mereka tidak sadar akan keberadaan monyet di sana. Oleh karena itu, si monyet dengan leluasa membawa sekeranjang kacang tanah mereka. Dan secepat kilat si monyet berlari menjauh dengan membawa sekeranjang kacang tanah milik kura-kura dan penyu.
       Sesaat kemudian, si kura-kura dan penyu terbangun. Mereka terkejut sebab sekeranjang kacang tanahnya telah hilang. Mereka berusaha mencari kesana kemari namun tidak ketemu juga. Mereka menangis. Mereka bersedih. Mereka menyesal telah tidur terlalu pulas.Dan dengan langkah gontai mereka berjalan menyusuri pematang sawah sambil terus mencari keberadaan barang miliknya.
        "huuu   huuu  hhuuuuu...gara-gara kita tidur terlalu pulas akhirnya hilang dech kacang tanah kita," kata si kura-kura menyesali diri.
        "Iya...ya...coba kalau kita tadi terus pulang ke rumah tentu barang kita tidak sampai hilang."
        "Sialan !Memangnya siapa sih yang usil mencuri kacang tanah kita? Awas ya kalau ketahuan! Aku akan mengambil perhitungan dengan mereka."
        "Iya...kita akan keroyok saja mereka. Kita laporkan bapak polisi saja biar dihukum berat."
        Tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh seekor kepiting sawah. Si kepiting ternyata telah mendengar semua pembicaraan mereka.
        "Sabar, teman-teman!" sapa si kepiting. "Aku sebenarnya mengetahui siapa yang telah mencuri kacang tanahmu>"
        "Hah ?! Benarkah ucapanmu itu, Pak Kepiting?" tanya si penyu bersemangat.
        "Benar, aku tahu. Si monyetlah yang telah membawa sekeranjang kacang tanahmu tadi,"
        "Astaghfirullahaladziem....lagi-lagi dia yang selalu bikin ulah," kata kura-kura. "Lalu, kemana dia pergi, Pak Kepiting?"
        "Sabar, ya. Bapak mau menolong kalian. Bapak tadi telah menyuruh anak-anak mengikuti kemana saja si monyet pergi. Sebab bapak curiga dengan sikap tergesa-gesanya. Sebentar lagi tentu ada laporan keberadaan si monyet."
         Si kura-kura dan penyu akhirnya bisa bernafas lega. Ternyata Pak Kepiting akan membantu mereka. Dan tidak lama lagi mereka akan menemukan kacang tanah mereka.
        "Pak Kepitiiiiiiiing.....dia berhenti tidak jauh dari sini, Pak!" teriak anak kepiting. "Dia berhenti di bawah pohon pinggir sungai, Pak."
        "Baiklah, ayo kita segera ke sana," kata Pak kepiting mengajak seluruh anaknya, si kura-kura dan penyu menuju tempat dimana si monyet berada.
        "Naaaaahhhh....itu dia, Pak." kata anak kepiting sambil menunjuk si monyet yang sedang duduk sambil menikmati kacang tanah.
        "Ayo kita atur strategi, ya," kata Pak Kepiting. "Ada yang berada di sebelah kanan, ada yang bagian kiri, ada yang bagian belakang, dan Bapak akan berada di bagian bawahnya. Usahakan agar dia tidak mengetahui keberadaan kita. Semua harus sudah siap dengan capit-capitnya. Dan setelah mendengar komando Bapak maka secepatnya kalian capit tubuh si monyet kuat-kuat, yaaaa."
         "Siaaaaaappppp!"
         Lalu Pak Kepiting dan anak-anaknya mengambil posisi masing-maasing. Sementara si kura-kura dan penyu mengamatinya dari kejauhan.
         Si monyet tidak menyadari akan kehadiran kelompok kepiting. Ia terus menguliti kulit kacang dan memakan biji-bijinya. "Hemmmmm....lezatttt....enaaaakkk," kata si kera sambil menjulur-julurkan ekornya ke bawah. Setiap ki\ulit kacang tanah yang telah dibukanya ia lempar begitu saja ke aliran sungai di depannya.
         "Awassss.....satuuuu....duuaaaa....tiiii...ggaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Pak Kepiting
         "Wuaduuuuuuuuuuuuuuccchhhhhhhhh.....ssaaakiiiiiittttt....saakiiiittt....sakiiiittttt," teriak si Monyet sambil menarik-narik ekornya yang dicapit oleh Pak Kepiting bersama-sama dengan anak-anaknya. Si Monyet lari tunggang langgang sambil terus berusaha melepaskan capitan Pak Kepiting. Namun karena capitan Pak kepiting terlalu kuat maka ia kesulitan melepaskannya. Akhirnya, si monyet tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ketika ia berusaha melompat di pinggir sungai, tubuhnya oleng. Dan akhirnya...byuuuuuuurrrr.....tubuh si monyet tenggelam ke dalam air sungai yang alirannya deras. Si monyet tidak bisa berenang. Tubuhnya hanyut terbawa aliran sungai.
        "Terima kasih, Pak Kepiting," kata si kura-kura dan penyu kepada Pak Kepiting yang baru berenang dan keluar dari air sungai. "Terima kasih juga kepada anak-anak Pak kepiting. Kami tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian."
         "Sudahlah, teman. Bapak senang bisa membantu kalian. Si pekerja keras seperti kalian layak ditolong daripada di pencuri itu!"
         Kemudian si kura-kura dan penyu pamit pulang sambil membawa sisa kacang tanah yang masih belum dimakan oleh si monyet.


selesai

sumenep, 19, oktober 2012

Moral Cerita : Jadilah pekerja keras dimanapun berada dengan segala potensi yang anda miliki. Jangan
                       berusaha membandingkannya dengan potensi teman. Aku adalah aku. Insyaallah si
                       pekerja keras lebih dihormati daripada si pencuri dan pemalas.

Tuesday, October 16, 2012

AKHIR PETUALANGAN SI SEMUT MERAH (oleh : aguskarianto)

       Mentari sudah menampakkan diri. Sinarnya terang dan terasa hangat menerpa apa saja yang ada di permukaan bumi. Tidak terkecuali kepada sekelompok semut hitam yang sedang berbaris rapi. Mereka sedang bergotong royong mengangkat sepotong roti yang ditemukan di bawah pohon mawar. Sekelompok semut memang terkenal suka bergotong royong, tidak terkecuali siapa saja yang menemukan makanan maka secara spontan teman-teman yang lain membantu mengangkat ke rumahnya.
      Tidak jauh dari tempat semut-semut hitam menemukan makanan, ada seekor semut merah yang masih tidur nyenyak.Semut merah ini terkenal pemarah dan suka merebut makanan yang dimiliki teman-temannya.Bila makanan tidak diberikan maka dia tidak segan-segan menantang temannya untuk berkelahi sampai mati. Berpuluh-puluh temannya pernah menjadi korban ketamakan semut merah.
      "Ayoo...angkat..angkattt...satu..dua...tigaaaa....angkat bagian sebelah kiri....tapi yang bagian kanan bisa bergeser ke kanan....yaaaa...begitu....ayooo sekarang rotinya diangkat sama-sama....yaaaaakkkk...," demikian si pemimpin semut hitam memberi komando dalam mengangkat sepotong rotinya.
      "Ayooo...ayooo...ayooo....kompaaakkk....'" teriak semut-semut hitam.
      "Oke...rasa lelah kita singkirkan dahulu sebab kita hampir sampai ke rumah !"
       Teriakan demi teriakan semut-semut hitam ternyata membuat tidur semut merah terganggu. Dia jadi terbangun. Dan ketika dilihatnya bahwa si semut hitam yang berteriak-teriak maka spontan dia bangkit amarahnya.
      "Heiiiiiiiiii.....diaaaaammmmmm!!!!" bentak si semut merah.
      Dan tanpa dikomando, semut-semut hitam terdiam. Mereka menghentikan langkahnya. Mereka terdiam. Ternyata teriakan-teriakan sang pemimpin mereka telah mengganggu tidur si semut merah.Kini si semut merah telah bangun.
      "Siapa berani mengganggu tidurku?" tanya si semut merah. "Apa kalian tidak tahu bahwa aku lagi asyik menikmati tidur? Kenapa kalian teriak-teriak seperti itu?"
       "Tapi kami kalau melakukan gotong royong khan selalu dikomando pemimpin kami seperti itu?" kata salah satu semut hitam memberanikan diri menjawab semut merah. "Kebiasaan ini sudah mendarah daging dan tidak bisa dihilangkan begitu saja sebab dengan komando itulah kami tidak merasakan capai dalam bekerja."
       "Diaaammm....pokoknya kalian tidak boleh ramai. Titik !" teriak semut merah. "Tapi, hei....kalian membawa makanan yang lezat ya? Hohohohohoho...kebetulan setelah bangun tidur tadi perutku terasa lapar niiiihhhh....ayooo serahkan makanan itu kepadaku!"
        Mendengar permintaan semut merah, seluruh semut hitam terdiam dan saling pandang satu sama lain. Mereka merasa serba salah sebab sepotong roti itu sudah menjadi hak mereka. Mereka tidak mau memberikannya sebab seharian baru sepotong roti yang mereka temukan. Tetapi kalau rotinya tidak diberikan maka taruhannya mereka akan duel berkelahi dengan si semut merah.
       "Wahh...jangan! Kami sejak pagi baru menemukan sepotong roti ini. Kalau roti ini kamu rampas lalu anak-anak kami mau makan apa?"
       "Hei, aku tidak perduli ! Pokoknya serahkan roti itu ! Atau kalian mau duel dengan aku ya?" kata semut merah sambil merebut sepotong roti yang diangkat beramai-ramai oleh semut hitam.
       Semut-semut hitam terdiam. Tidak ada yang berani melawan tindakan semut merah tersebut. Semut-semut hitam terkadang menyalahkan pemimpinnya yang terlalu lantang mengomandoi mereka dalam mengangkat roti sehingga membuat semut merah terbangun. Tetapi ada juga yang merelakan begitu saja roti itu dibawa semut merah karena beranggapan bahwa roti itu memang bukan rezeki mereka. Ada juga yang marah-marah karena jatah makan mereka direbut semut merah tanpa ada perlawanan dari kelompok mereka. Ada juga yang bersikap masa bodoh dengan ulah semut merah.
        Dan dalam sekejap sepotong roti telah beralih ke tangan semut merah. Ia lalu melahap roti secuil demi secuil dihadapan semut hitam.
      "Hemmmm.....enaakkkk...hemmm...nikmaaatttt," guman semut merah "Hei, kamu jangan melotot sambil mulutmu terbuka melihat aku makan...memangnya kamu ingin roti ini yaaaa? Tapi....nggak la yaouw....roti ini akan aku habiskan sendiri...."
       Dan dalam sekejap saja semut merah berhasil melahap seluruh roti yang direbut dari semut hitam. Semut merah puas. Dan perutnya kini nampak besar dan membuncit. Sehingga ia mulai susah untuk bergerak dan mengangkat tubuhnya. Setiap kali ia berdiri dan hendak berjalan tiba-tiba tubuhnya oleng dan kaki-kakinya tidak kuat menahan perutnya yang membesar dipenuhi sepotong roti. "Aduuhhh...gimana ini? Gimana ini aku tidak bisa berjalan," pikir semut merah. "Aduh...gimana ini? Mana aku sekarang haus sekali...."
      "Hei, semut hitam ambilkan aku minuman....aku haus nih...." teriak semut merah "Ayo cepat ambilkan!"
      Namun tidak ada satupun semut hitam yang memenuhi perintah semut merah. Mereka terlanjur marah dan jengkel dengan ulah semut merah yang dengan seenaknya saja merebut roti dari tangannya. Apalagi kini semut merah sudah tidak berdaya. Ia tidak kuat berjalan dan mengangkat tubuhnya. Mereka hendak memberi pelajaran terhadap semut yang sok mau menangnya sendiri. Sok kuasa. Sok jagoan. Tidak sadar bahwa dalam hidup ini masih memerlukan pertolongan teman-temannya bila ada masalah. Kalau berlaku semena-mena dan sok jagoan juga mau menangnya sendiri maka teman yang lain akan enggan membantu apabila kita mendapat masalah dan perlu bantuan.
       "Enak saja kamu suruh aku mengambil minuman !" bentak semut hitam "Kamu yang makan dan kekenyangan sendiri seharusnya kamu juga yang mengambil mimimanmu sendiri...jangan perintah kami!"
       "Hei...kamu berani melawan aku ya...awas kamu akan aku pukul lho....'" kata semut merah sambil berusaha berdiri dan akan memukul semut hitam. Namun berkali-kali ia mencoba berdiri tapi badannya selalu roboh. "Hausss....haussss....haussss teman-teman.....ambillkan minuman.."
        Namun semut-semut hitam sama sekali tidak ada yang membantunya. Bahkan satu persatu mereka membubarkan diri sambil meninggalkan si semut merah yang terus meronta-ronta memanggil semut hitam untuk membantu mengambilkan minuman karena kehausan setelah melahap sepotong roti hasil rampasannya.
       Semut merah akhirnya menyesali diri karena akibat perbuatannya banyak temannya yang tidak peduli dengan penderitaannya. "Mengapa aku harus merebut hak orang lain ? Mengapa aku harus bersikap sok kuasa terhadap teman-teman? Mengapa aku harus berbuat jahat terhadap teman-teman? Mengapa aku harus bertindak tidak adil kepada mereka?" guman semut merah sambil merangkak dengan susah payah mencari seteguk minuman untuk menghilangkan kehausannya. Akhirnya karena lama tidak mendapatkan setetes airpun maka tubuh semut merah lemas dan mati dengan perut yang membuncit dipenuhi roti hasil rampasan dari semut hitam.



selesai

sumenep, 16 oktober 2012

moral cerita : Sikap sok jagoan, sok kuasa, mau menangnya sendiri, suka merampas hak teman pada akhir
                     nya kita akan dijauhi teman kita. Teman-teman akan muak dengan keberadaan kita. Dan
                     mereka akan enggan menolong kita apabila kita tertimpa masalah.