Pagi itu, di bawah pohon mawar ada seekor lalat sedang bersedih. Tatapan matanya tertuju pada seekor lebah yang sedang bekerja menghisap makanan pada bunga-bunga yang sedang mekar. Si lalat heran, melihat lebah bekerja dengan perasaan riang sambil bernyanyi-nyanyi. Setiap makanan yang didapatnya akan dikumpulkan pada sarang-sarang lebah yang tidak jauh dari tempat itu.
Seharian bekerja membuat si lebah kelelahan. Saat dia terbang membawa makanan, tiba-tiba kepalanya pusing. Dia berniat mau istirahat di bawah pohon. Ketika si lebah mau terbang ke salah satu pohon dia tidak sadar bahwa makanan yang dibawanya sebagian tertumpah dan masuk ke mulut serta tubuh si lalat yang sedang tidur di bawah pohon.
"Sruuuttt....hemmm hemm hemmm nyem nyem nyem wuih makanan apa yang rasanya enak begini?" gumam si Lalat dengan mata masih tertutup.
"Tapi, aduuhh !! Kedua sayapku kok lengket begini?! Siapa yang telah berani kurang ajar mengotori tubuhku !?" bentak si lalat marah marah sambil berdiri berkacak pinggang. Kedua matanya melotot mencari siapa yang telah berani mengotori tubuhnya.
"Kalau begini aku gak bisa terbang niihhh". kata si Lalat sambil berusaha membersihkan tubuhnya dengan mulutnya.
Tidak jauh dari si lalat berdiri rupanya ada seekor Lebah sedang mengeluh kepalanya pusing. Kedua tangannya senantiasa memijat mijat kepalanya untuk mengurangi rasa pusingnya.
"Ooooo ternyata kamu ya Si Lebah yang telah menyiram tubuhku dengan makanan yang kau bawa itu?" bentak si lalat sambil berjalan menghampiri si lebah.
"Hoiii lebah....lancang sekali kamu menjatuhi tubuhku dengan makanan yang kau bawa itu?!"
"Lho kenapa kamu memarahiku, Lalat?" tanya si lebah tidak mengerti.
"Eeee...eee...eee... kamu jangan kura kura dalam perahu ya. Pura pura tidak tahu ?! Kamu ini telah berbuat salah tapi mencoba berlagak tidak tahu! Memang si pelaku kesalahan itu bila ketahuan berbuat salah selalu berusaha berlagak bodoh untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahannya," kata si lalat kemudian.
"Sungguh!!! Sumpah aku tidak tahu kesalahanku, kawan!" kata si lebah berusaha mengelak dari tuduhan si Lalat.
"Hoiii dengarkan!!! Aku tadi sedang tidur, tetapi tidurku terganggu karena tertimpa makanan cair yang kau bawa itu? Lihatlah tubuhku lengket karena cairan yang kau bawa itu khan?!"
Melihat tubuh si lalat lengket akibat makanan yang dibawanya akhirnya membuat si lebah pasrah dan mulai menyadari kesalahannya. Memang cairan yang menimpa tubuh si Lalat sama dengan cairan yang dibawanya.
"Waaaah, maafkan aku ya kawan. Aku tidak sengaja melakukannya. Tadi saat aku terbang, badanku terasa lelah. Aku pusing kepalaku rasanya berputar putar. Aku teledor telah menjatuhkan sebagian cairan makanan ini dan telah menimpa tubuhmu. Maafkan aku ya kawan, aku tidak sengaja melakukannya."
"Maaf..maaf...maaf...enak betul ucapanmu! Kamu gak boleh lari dari tanggung jawab? Aku mau minta ganti rugi...aku mau minta keadilan !" kata si lalat. "Aku bisa memaafkanmu asal kamu bisa memenuhi dua permintanku."
Si lebah kebingungan dengan sikap si lalat. "Memberi maaf kok ada syaratnya?" pikir si lebah. Namun, si lebah pasrah dan berusaha menuruti kemauan si lalat. Dia tidak mau bertengkar dengan temannya. Dia cuma ingin mendapatkan kata maaf dari si lalat.
"Lalu apa kedua syarat itu, kawan ?" tanya si lebah.
"Pertama, kau harus menyerahkan semua makanan yang kau bawa itu kepadaku."
"Lalu yang kedua, kau harus memindahkan sengatmu itu ke tubuhku agar aku memiliki senjata seperti kamu," kata si lalat.
Si lebah terkejut mendengar permintaan si lalat yang kedua ini. "Ini mustahil dilakukan," pikir si lebah. Dia bengong memikirkan permintaan si lalat yang tidak masuk akal itu. Dia kebingunan. Dia tidak tidak tahu bagaimana harus memenuhi permintaan si lalat yang tidak masuk akal itu. "Memindahkan sengatku ke tubuh si lalat adalah suatu perkara yang mustahil dilakukan. Mustahil. Mustahil ! Hal ini tidak boleh dilakukan karena sama saja si lalat berusaha membunuhku.
"Hei...malah bengong!" bentak si Lalat. "Kau jangan terlalu banyak mikir. Ayo cepat laksanakan permintaanku yang kedua itu baru aku akan memaafkanmu."
"Hei Lalat! Persyaratanmu yang kedua ini mustahil aku penuhi. Bila itu terjadi bisa membahayakan tubuhku. Aku bisa mati. Tidak!! Untuk persoalan ini aku akan minta pertimbangan si Kancil. Dia sangat bijaksana dalam memutuskan perkara.
"Baiklah, aku setuju," kata si lalat.
Saat si kancil telah berada di antara mereka, lalu si lebah menceritakan persoalannya yang dihadapinya.
"O begitu ya masalahnya." kata si kancil mengawali ucapannya. "Baiklah, kawan-kawan. Tolong Aku jangan diganggu dulu ya saat berdo'a minta petunjuk Tuhan untuk menghadapi permasalahan kalian," Lalu si kancil mulai berdo'a.
Selesai berdo'a, si kancil berkata kepada si lalat.
"Memasang sengat lebah ke tubuhmu memang perkara sulit. Kamu harus ikut membantu si lebah melakukannya. Oleh karena itu, sekarang kamu harus berada di tengah tanah lapang dengan posisi menungging. Kamu tidak boleh bergerak sedikitpun. Apapun yang terjadi kamu harus tetap dalam posisi menungging agar si lebah bisa memasang sengatnya ke tubuhmu. Bagaimana? Kamu siap Lalat?" kata si kancil kepada si lalat. Si Lalat cuma bisa mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju. "Akhirnya aku akan memiliki senjata seperti yang dimiliki si lebah.
"Okeyyyy....aku percaya kepadamu, Kancil!" kata si lalat lalu terbang ke tengah tanah lapang dan mulai mengambil posisi menungging.
"Iyess...aku sudah siap, kawan!!! teriak si Lalat dengan posisi tubuh menungging.
Si lebah kebingungan. Dia tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan si kancil terhadap kawannya itu. Tapi biasanya Si kancil punya cara cerdik dalam menyelesaikan setiap persoalan. Lalu, si kancil membisiki si lebah untuk melakukan perintahnya. Si lebah tersenyum mendengar saran si kancil.
Si lebah terbang tinggi. Dan dengan kecepatan tinggi dia terbang menghampiri si lalat yang sudah mengambil posisi menungging.
"Crabbbb....crabbb.... crabbb....sreeettttt...." ternyata sengat si lebah kini sudah berpindah ke tubuh si lalat.
"Aduuuuuuuuhhhhh sakiiitttt...sakiiittttt...sakiiittt....!!" teriak si lalat "Kurang ajar kamu si Lebah dan si Kancil telah melukai tubuhku seperti ini. Awas rasakan pembalasanku nanti ya!!!! teriak si Lalat sambil lari tunggang langgang memegangi pantatnya yang tertusuk sengat si lebah.
Rupanya si kancil ingin memberi pelajaran si Lalat bahwa keserakahan bisa mencelakakan dirinya sendiri. Tidak mungkin sengat si lebah dipindahkan ke tubuh si Lalat karena itu menyalahi ketetapan Allah.
"Kasihan si lalat....akibat keserakahan dan kurang bersyukur dengan pemberian Tuhan kepadanya akhirnya menuai penderitaan akibat dari perbuatannya sendiri. " kata si kancil sambil berjalan melanjutkan perjalanan.
S E L E S A I
moral cerita :
bersyukurlah
dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadamu jangan berusaha iri dengan apa yang telah dimiliki temanmu
Belum tentu apa yang dimiliki temanmu itu baik buat dirimu sendiri.Barangsiapa bersyukur maka akan ditambah berkahnya
tapi siapa yang kufur nikmat maka mendapat
adzab Allah.

Cek juga disini untuk cerita menarik lainnya
ReplyDeletehttps://ponselharian.com/lcgGm