Friday, October 16, 2015

HARI BEBAS POLUSI (oleh : aguskarianto)

gambar : agus karianto
            "Hoiiiiiiiiiiiiiii....teman-teman....ayo kumpul semua !!" teriak Pak Sapi kepada teman-temannya yang sedang main-main di tepi sungai.
            "Ayooo...kumpul ke sini....kumpul ke sini....".
            Mendengar ajakan  Pak Sapi maka semua hewan menghentikan aktivitas bermainnya. 
Mereka keheranan. "Ada apa nih kok Pak Sapi menyuruh kita berkumpul ?".
           Namun, tidak begitu lama, seluruh hewan sudah mendekati pak Sapi. Ada anak sapi, anak kambing, Kerbau, si Pus Meong, si Imut Kelinci, dan siJerapah.
        "Hemmm...ada apa sih Kok kita disuruh kumpul, Pak Sapi ?" tanya si Imut Kelinci membuka pembicaraan.
        "Iya...nih Pak Sapi...mengganggu keasyikan kita bermain saja," sela anak kambing.
        "Padahal kita lagi main petak umpet yaaa," sela anak kelinci. 
        "Yaaa...akhirnya teman-teman yang masih sembunyi ikut keluar semua dech."
        "Bahkaaaan... aku tadi sudah melepas baju hendak berenang di sungai....yaa...akhirnya batal dech aku berenang..." kata pak kerbau.
         Pak Sapi tersenyum mendengar keluh kesah teman-temannya. Walaupun mereka merasa dongkol terhadap Pak Sapi tetapi mereka tidak mau melanggar perintahnya.
       "Aku minta pengertianmu ya, teman-teman," kata pak sapi memulai perkataannya   
       "Aku akan mengabarkan berita gembira buat kalian. Sebenarnya berita gembira ini buat kalangan manusia, tapi tidak ada salahnya kalau kita ikut bergembira juga."
      "Memangnya ada apa sih, Pak Sapi? Apakah kita akan mendapat hadiah istimewa yaaa?"
      "Barangkali kita akan diajak rekreasi gratis yaaaa, Pak Sapi?!"
      "Atau kita akan mendapat makanan istimewa? Mungkin  kita akan mendapat bakso, cwimie, rujak cingur, pangsit mie, es krim, nasi rawon....wuaaah enak tenan itu, Pak Sapi."
        "Hemmm....tenang..tenang...dengar dulu  kabar gembira yang akan aku sampaikan," sela Pak Sapi.
       "Teman-teman...di kampung kita sekarang akan mendapat pemimpin yang baru. Konon katanya, pemimpin kita  ini amat merakyat lho. Orangnya sabar. Dia lebih suka mendengarkan keluh kesah warga. Bahkan dia amat mencintai lingkungan dan suka akan kebersihan. Orangnya jujur dan semua warga amat senang bila bisa duduk bersama pemimpin yang baru ini."
        "Memangnya  ada hubungan apa dengan kita, Pak?"
        "Iya...dari dulu yang namanya pemimpin ya memang harus punya sifat begitu, Pak Sapi," kata Pak Jerapah.
        "Seorang pemimpin itu harus punya sifat amanah, cerdas, bisa melindungi rakyatnya, peduli sama kaum bawah termasuk makhluk Tuhan seperti kita-kita ini. Seorang pemimpin itu bukanlah seseorang yang suka obral janji, sombong, takabur, bermulut manis, seakan-akan peduli sama kaum bawah hanya disaat mereka butuh dukungan saat berkampanye, tetapi saat dia terpilih menjadi seorang pemimpin mereka tidak bisa merealisasikan janji-janjinya  , iya khan?"
        "Hehehehehe...iya juga sih...banyak yang bertingkah laku seperti itu, Pak Sapi!" gumam si Jerapah.
        "Benar..benar...benar....kami sudah muak dengan janji-janji melulu!"
        "Semua calon pemimpin tidak bisa dipercaya semuanya! Mereka itu dikatakan pemimpin SOJAM!" teriak si Kelinci.
        "Wuahhh ada-ada saja pemimpin SOJAM? Apa maksudnya, adik kelinci?"
        "Pemimpin SOJAM itu adalah singkatan dari pemimpin yang Suka Obral Janji Melulu!"
         "Hahahahahaha....hahahahhaha...hahahahahaha....Pemimpin SOJAM" teriak semua hewan sambil tertawa terpingkal-pingkal.
         Pak Sapi ikut tersenyum mendengar ada istilah baru tentang jenis pemimpin. 
         "Teman-teman..." kata pak sapi kemudian. 
         "Kali ini Pemimpin kita berbeda. Dia amat merakyat. Dia disenangi rakyat. Dia cerdas. Berbudi luhur. Dia mau mendengar keluhan seluruh warganya. Dia adil tidak pandang bulu siapa salah akan dihukum. Coba lihat sungai di depan kita ! Dulu sungai ini kotor dan berbau, tetapi berkat pemimpin kita maka sungai ini menjadi bersih, ikan-ikan bisa berenang bebas tanpa takut meminum air polusi dan kini kita bisa berenang di sini lagi, khan?"
          Semua hewan membenarkan apa yang dikatakan pak sapi.  Bersihnya sungai adalah salah satu bukti nyata kepemimpinannya.
         "Teman-teman....sebentar lagi kita juga akan menikmati hari dimana kita bebas berjalan di jalan raya tanpa takut menghirup polusi asap. Hari itu tidak ada lagi produksi asap dari kendaraan bermotor. Hari itu semua kendaraan bermotor tidak boleh berkeliaran berjalan di jalanan. Hari itu diharapkan udara di daerah ini benar-benar bersih. Tidak ada asap polusi yang ada di udara kita. Dan yang terpenting kita bebas bermain di jalan raya, bebas berjalan-jalan di jalan raya. Kita hanya diperkenankan naik sepeda. Hari itu kita akan menikmati kedamaian dan bersihnya udara."
          "Horeeee....horeeee....horeeee......kita bebas berjalan-jalan di jalan raya tanpa takut diserempet kendaraan bermotor. Kita bebas berjalan di jalan raya tanpa takut ditabrak mobil. Horeeee...horeee...."
          "Lalu kapan itu akan dilaksanakan , Pak Sapi?" tanya beruang.
          "Pelaksanaannya disesuaikan dengan hari bebas polusi dunia yaitu setiap tanggal 22 September"
          "Horeee....kita akan keliling kota sambil naik sepeda saja, Pak Sapi," kata pak Kambing.
           "Horeee...wah enaknya diadakan setiap hari saja , Pak Sapi agar kita bisa sehat karena setiap hari udara menjadi bersih dan bebas polusi."
           "Wuahh...ya nggak bisa setiap hari, pak Jerapah," kata pak sapi.
           "Memang seharusnya setiap hari kita seminimal mungkin mengurangi asap polusi. Namun, kasihan juga dengan mereka yang menggunakan alat bermotor untuk aktifitas sehari-hari. Sehari tanpa polusi saya kira sudah mewakili dan memberi kesadaran bahwa memang udara yang bebas polusi sangat menyenangkan. Dan kita setidak-tidaknya menjadi sadar bahwa udara yang bersih itu adalah tanggung jawab semuanya."
            "Benar, pak sapi! MENJADIKAN UDARA BERSIH DAN BEBAS POLUSI ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA TANPA TERKECUALI. Dan bila udara bersih bebas polusi maka kita juga yang merasakan kebaikannya."
            "Pak sapi, aku ingin bersepeda keliling kota di hari bebas polusi. Dan aku ingin mengajak semua teman-temanku. Bolehkan, Pak?" kata si kambing.
           "Iyaa...silahkan...silahkan kalian mau melakukan aktifitas apa saja di jalan raya atau dimanapun berada. Kalian akan bisa menikmati udara yang bersih tanpa ada polusi udara. Dan kalian pasti akan merasakan betapa nikmatnya udara pemberian Tuhan ini apabila tanpa diganggu atau tanpa tercemar oleh polusi."
            Dan semua hewan gembira dan tidak sabar ingin menikmati hari bebas polusi yang diselenggarakan oleh pemimpin baru mereka yang bukan pemimpin SOJAM lagi..
           "Hooreee....kita siap-siap menyambut hari bebas polusi dunia setiap tanggal 22 September...."






Thursday, October 15, 2015

SI LALAT YANG KURANG BERSYUKUR (oleh : aguskarianto)

gambar : agus karianto
   
       Pagi itu, di bawah pohon mawar ada seekor lalat sedang bersedih. Tatapan matanya tertuju pada seekor lebah yang sedang bekerja menghisap makanan pada bunga-bunga yang sedang mekar. Si lalat heran, melihat lebah bekerja dengan perasaan riang sambil bernyanyi-nyanyi. Setiap makanan yang didapatnya akan dikumpulkan pada sarang-sarang lebah yang tidak jauh dari tempat itu.

      Seharian bekerja membuat si lebah  kelelahan. Saat dia terbang membawa makanan, tiba-tiba kepalanya pusing. Dia berniat mau istirahat di bawah pohon. Ketika si lebah mau terbang ke salah satu pohon dia tidak sadar bahwa makanan yang dibawanya sebagian tertumpah dan masuk ke mulut serta tubuh si  lalat yang sedang tidur di bawah pohon.
 
     "Sruuuttt....hemmm hemm hemmm nyem nyem nyem wuih makanan apa yang rasanya enak begini?" gumam si Lalat dengan mata masih tertutup. 
 
       "Tapi, aduuhh !! Kedua sayapku kok lengket begini?! Siapa yang telah berani kurang ajar mengotori tubuhku !?" bentak si lalat marah marah sambil berdiri berkacak pinggang. Kedua matanya melotot mencari siapa yang telah berani mengotori tubuhnya.
 
       "Kalau begini aku gak bisa terbang niihhh". kata si Lalat sambil  berusaha membersihkan tubuhnya dengan mulutnya. 

           Tidak jauh dari si lalat berdiri rupanya ada seekor Lebah sedang mengeluh kepalanya pusing. Kedua tangannya senantiasa memijat mijat kepalanya untuk mengurangi rasa pusingnya.

       "Ooooo ternyata kamu ya Si Lebah yang telah menyiram tubuhku dengan makanan yang kau bawa itu?" bentak si lalat sambil berjalan menghampiri si lebah.


       "Hoiii lebah....lancang sekali kamu menjatuhi tubuhku dengan makanan yang kau bawa itu?!" 

        "Lho kenapa kamu memarahiku, Lalat?" tanya si lebah tidak mengerti.

        "Eeee...eee...eee... kamu jangan kura kura dalam perahu ya. Pura pura tidak tahu ?! Kamu ini  telah berbuat salah tapi mencoba berlagak tidak tahu! Memang si pelaku kesalahan itu bila ketahuan berbuat salah selalu berusaha berlagak bodoh untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahannya," kata si lalat kemudian.

        "Sungguh!!! Sumpah aku tidak tahu kesalahanku, kawan!" kata si lebah berusaha mengelak dari tuduhan si Lalat.

        "Hoiii dengarkan!!! Aku tadi sedang tidur, tetapi tidurku terganggu karena tertimpa makanan cair yang kau bawa itu? Lihatlah tubuhku lengket  karena cairan yang kau bawa itu khan?!"

        Melihat tubuh si lalat lengket akibat makanan yang dibawanya akhirnya membuat si lebah pasrah dan mulai menyadari kesalahannya. Memang cairan yang menimpa tubuh si Lalat sama dengan cairan yang dibawanya.
 
       "Waaaah, maafkan aku ya kawan. Aku tidak sengaja melakukannya. Tadi saat aku terbang, badanku  terasa lelah. Aku pusing kepalaku rasanya berputar putar. Aku teledor telah menjatuhkan sebagian cairan makanan ini dan telah menimpa tubuhmu. Maafkan aku ya kawan, aku  tidak sengaja melakukannya."

        "Maaf..maaf...maaf...enak betul ucapanmu! Kamu gak boleh lari dari tanggung jawab?  Aku mau minta ganti rugi...aku mau minta keadilan !" kata si lalat. "Aku bisa memaafkanmu asal kamu bisa memenuhi dua permintanku."

         Si lebah kebingungan dengan sikap si lalat. "Memberi maaf kok ada syaratnya?" pikir si lebah. Namun, si lebah pasrah dan berusaha menuruti  kemauan si lalat. Dia tidak mau bertengkar dengan temannya. Dia cuma ingin mendapatkan kata maaf dari si lalat.

        "Lalu apa kedua syarat itu, kawan ?" tanya si lebah.

        "Pertama, kau harus menyerahkan semua makanan yang kau bawa itu kepadaku."
         "Lalu yang kedua, kau harus memindahkan  sengatmu itu ke tubuhku agar aku memiliki senjata seperti kamu," kata si lalat.

          Si lebah terkejut mendengar permintaan si lalat yang kedua ini. "Ini mustahil dilakukan," pikir si lebah. Dia bengong memikirkan permintaan si lalat yang tidak masuk akal itu. Dia kebingunan. Dia tidak  tidak tahu bagaimana harus memenuhi permintaan si lalat yang tidak masuk akal itu. "Memindahkan sengatku ke tubuh si lalat adalah suatu perkara yang mustahil dilakukan. Mustahil. Mustahil ! Hal ini tidak boleh dilakukan karena sama saja si lalat berusaha membunuhku.

           "Hei...malah bengong!" bentak si Lalat. "Kau jangan terlalu banyak mikir. Ayo cepat laksanakan permintaanku yang kedua itu baru aku akan memaafkanmu."

         "Hei Lalat! Persyaratanmu yang kedua ini mustahil aku penuhi. Bila itu terjadi bisa membahayakan tubuhku. Aku bisa mati. Tidak!! Untuk persoalan ini aku akan minta pertimbangan si Kancil. Dia sangat bijaksana dalam memutuskan perkara.
 
         "Baiklah, aku setuju," kata si lalat.
 
          Saat si kancil telah berada di antara mereka, lalu si lebah menceritakan persoalannya yang dihadapinya.

         "O begitu ya masalahnya." kata si kancil mengawali ucapannya. "Baiklah, kawan-kawan. Tolong Aku jangan diganggu dulu ya saat berdo'a minta petunjuk Tuhan untuk menghadapi permasalahan kalian,"  Lalu si kancil mulai berdo'a.

         Selesai berdo'a, si kancil berkata kepada si lalat.
         "Memasang sengat lebah ke tubuhmu memang perkara sulit. Kamu harus ikut membantu si lebah melakukannya. Oleh karena itu, sekarang kamu harus berada di tengah tanah lapang dengan posisi menungging. Kamu tidak boleh bergerak sedikitpun. Apapun yang terjadi kamu harus tetap dalam posisi menungging agar si lebah bisa memasang sengatnya ke tubuhmu. Bagaimana? Kamu siap Lalat?" kata si kancil kepada si lalat. Si Lalat cuma bisa mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju. "Akhirnya aku akan memiliki senjata seperti yang dimiliki si lebah.

        "Okeyyyy....aku percaya kepadamu, Kancil!" kata si lalat lalu terbang ke tengah tanah lapang dan mulai mengambil posisi menungging.
 
         "Iyess...aku sudah siap, kawan!!! teriak si Lalat dengan posisi tubuh menungging. 

         Si lebah kebingungan. Dia tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan si kancil terhadap kawannya itu. Tapi biasanya Si kancil  punya cara cerdik dalam menyelesaikan setiap persoalan. Lalu, si kancil  membisiki si lebah untuk melakukan perintahnya. Si lebah tersenyum mendengar saran si kancil. 
 
       Si lebah terbang tinggi. Dan dengan kecepatan tinggi dia terbang menghampiri si lalat yang sudah mengambil posisi menungging.

         "Crabbbb....crabbb.... crabbb....sreeettttt...." ternyata sengat si lebah kini sudah berpindah ke tubuh si lalat.

         "Aduuuuuuuuhhhhh sakiiitttt...sakiiittttt...sakiiittt....!!" teriak si lalat "Kurang ajar kamu si Lebah dan si Kancil telah melukai tubuhku seperti ini. Awas rasakan pembalasanku nanti ya!!!! teriak si Lalat sambil lari tunggang langgang memegangi pantatnya yang tertusuk sengat si lebah.
          Rupanya si kancil ingin memberi pelajaran si Lalat bahwa keserakahan bisa mencelakakan dirinya sendiri. Tidak mungkin sengat si lebah dipindahkan ke tubuh si Lalat karena itu menyalahi  ketetapan Allah.
         "Kasihan si lalat....akibat keserakahan dan kurang bersyukur dengan pemberian Tuhan kepadanya akhirnya menuai penderitaan akibat dari perbuatannya sendiri. " kata si kancil sambil berjalan melanjutkan perjalanan.

                                             S E L E S A I

moral cerita :  

bersyukurlah dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadamu jangan berusaha iri dengan apa yang telah dimiliki temanmu
Belum tentu apa yang dimiliki temanmu itu baik buat dirimu sendiri.Barangsiapa bersyukur maka akan ditambah berkahnya tapi siapa yang kufur nikmat maka mendapat adzab Allah. 



Friday, October 31, 2014

ULAT BULU YANG MAU SEKOLAH (oleh : aguskarianto)

ilustrasi : aguskarianto


          Pagi itu, si Ulat Bulu berjalan cepat-cepat menuju SD Inpres. Dia ingin sekolah. Dia ingin pintar seperti teman-temannya. Dia tidak mau menjadi bodoh sehingga mudah dibohongi teman-temannya. "Tidak enak rasanya menjadi bodoh itu. Pokoknya aku harus sekolah, " demikian kata si Ulat Bulu dalam hati.
          Namun, sayang setiap kali ia memasuki sekolah maka spontan seluruh murid ketakutan. Mereka berlarian menjauhi si ulat bulu. Mereka tidak mau mengambil resiko. Mereka takut badan mereka menjadi gatal-gatal terkena bulu-bulu dari si ulat bulu. Dan hal ini membuat si ulat bulu sedih. Karena semua murid tidak mau berteman dengannya. Semua murid senantiasa lari menjauh bila di dekati si ulat bulu. Bahkan yang paling menyedihkan si ulat bulu bahwa setiap sekolah yang didatanginya selalu menolak dia bersekolah di sana.. Berbagai alasan yang dikemukakan pihak sekolah. Bangkunya sudah penuh. Sekolah tidak menerima binatang. Bahkan yang paling menyedihkan yaitu teman-temannya selalu mengejeknya sebagai binatang yang menjijikkan. Tubuhnya mengandung racun gatal. Akhirnya si ulat bulu pulang dengan perasaan bersedih.
           Walaupun banyak sekolah yang menolak dia menjadi muridnya, namun si ulat bulu tetap bertekad ingin sekolah. Ia terus mencari dan memasuki setiap sekolah agar dirinya bisa diterima sebagai murid. Berpuluh-puluh sekolah yang telah dia masuki, namun tidak satupun yang menerima menjadi muridnya. "Aku tidak boleh putus asa," kata si ulat bulu.
           Di tengah jalan, si ulat bulu bertemu si kancil. Si kancil tertawa terbahak-bahak melihat penampilan si ulat bulu. Si ulat bulu nampak terseok-seok membawa tas sekolah di punggungnya.
          "Hahahahaha...hahaha..hahahahaa...woi mau sekolah nih yeee!!" ledek si kancil. "Hahaha..memangnya sekolah mana yang mau menerimamu menjadi muridnya?"
          "Kamu jangan menghinaku seperti itu, Kancil," jawab si ulat bulu.
          "Siapa yang menghina...memangnya kenyataan khan? Semua sekolah menolaknya khan?!"
          "Iya, memang sampai sekarang aku belum dapat sekolah. Tetapi aku tidak mau berputus asa. Aku masih memiliki harapan besar pasti ada sekolah yang mau menerimaku menjadi muridnya. "
          "Hahahaha...urungkan saja niatmu, Si Ulat Bulu. Percuma! Sampai kiamat pun pasti tidak ada satu sekolahpun yang mau menerimamu menjadi muridnya."
          "Tapi. cill....huhuhu...huhuhu..huhuhu...," kata si ulat bulu bersedih dan mulai menangis. "Aku ingin sekolah..aku ingin pintar..aku tidak mau jadi bodoh yang bisa mudah dibohongi teman-teman lagi..huhuhu..huhuhu...huhuhuhuu."
           Si kancil terharu melihat si ulat bulu bersedih. Ia kagum terhadap semangat pantang menyerahnya.
            "Wuuuaaahh...kamu jangan bersedih begitu, teman," kata si kancil menghibur si ulat bulu.
            "Sebenarnya nenek moyangmu sudah meninggalkan ilmu yang sangat tinggi yang tidak aku miliki. Ilmu itu ada pada setiap lembaran daun muda yang kamu makan. Setiap lembaran daun muda berisi ilmu yang hebat. Itulah ilmu kehidupan. Aku sendiri tidak bisa memilikinya."
           "Ah, kamu meledekku, ya?"
           "Lho, ini benar, teman. Cobalah makan sampai kamu kenyang daun muda itu, maka kamu akan spontan masuk kedalam kepompong untuk berpuasa dalam beberapa hari. Nah, kalau sampai waktunya maka kamu akan keluar kepompong sambil membawa sepasang  sayap. Kamu bisa terbang kemanapun kamu suka. Dan kamu bebas menghisap madu-madu berkualitas tinggi pada sari bunga, lalu kamu tumbuh dewasa dan kawin lalu bertelur untuk menjadi ulat lagi. Begitulah seterusnya. Itulah ilmu hebat yang tidak aku miliki."
            "Ah, kamu bohong, Cil! Kamu mau menipuku ya? Mana ada ilmu yang tertulis pada lembaran-lembaran daun muda. Bohong!"
            "Lho, kenapa harus bohong? Bohong itu dosa. Aku tidak mau menambah dosa dalam hidupku. Aku takut terhadap hukuman Allah SWT bila banyak berbohong."
            "Tapi gak masuk akal mana mungkin pada setiap lembaran daun muda berisi ilmu yang hebat?" kata ulat bulu.
            "Begini ulat bulu, sebenarnya kamu itu sudah pandai. Kamu itu cerdas. Tanpa kamu sadari, ilmu itu sebenarnya sudah melekat pada nalurimu untuk kelangsungan kehidupan di alam semesta ini. Tanpa ada kepandaian darimu maka kami tidak akan bisa menikmati indahnya bunga yang mekar berwarna-warni. Kami tidak bisa menikmati manisnya rasa buah mangga, nanas, markisa, dan buah-buahan yang lain. Dengan kepandaianmu, tumbuhan bisa berkembangbiak dan menghasilkan buah yang segar. Saat kamu mengambil madu dari setangkai bunga maka kamu ikut membantu penyerbukan tumbuhan. Dan selanjutnya tumbuhan akan menghasilkan buah-buahan yang segar-segar"
            Si ulat bulu serius mendengarkan kata-kata si kancil. Dia sampai meneteskan airmata. Dia tidak menyangka bahwa kepandaian yang telah dimiliknya ternyata sungguh luar biasa. Dia selama ini kurang mensyukurinya. Dia terlalu melihat kelebihan teman-temannya sehingga merendahkan potensi yang telah dimilikinya. Tuhan ternyata memberikan kelebihan setiap makhuknya berbeda-beda.                                                 "Jadi menuntut ilmu bukan untuk gaya-gayaan. Punya ilmu bukan untuk tujuan pamer kecerdasan kepada teman-temanmu. Tapi berilmulah untuk bisa bermanfaat bagi berlangsungnya kehidupan di dunia ini. Berilmulah agar dirimu bisa bermanfaat bagi semua teman-temanmu. Itulah sebenarnya hakekat memiliki ilmu."
            Akhirnya, si ulat bulu tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Dia berteriak lantang-lantang di hadapan si Kancil : " TERIMA KASIH TEMAN, AKU AKAN MENGGUNAKAN ILMU YANG KUMILIKI UNTUK BISA BERMANFAAT BAGI SEMUA TEMAN-TEMANKU."
            Si Kancil tersenyum sambil berjalan pergi meninggalkan si ulat bulu yang kini sudah bisa tertawa lagi.

Saturday, May 3, 2014

KISAH SI KERA DAN SI KUCING (oleh : aguskarianto)



         


         
edit : aguskarianto
Hutan terbakar. Asap menyebar kemana-mana. Siapapun yang kena asap maka matanya terasa pedih dan saluran pernafasannya sakit sulit bernafas. Dampak kebakaran hutan juga dirasakan oleh si Kera. Kedua matanya terasa pedih dan pandangannya kabur. Akibatnya, dia sulit membedakan benda-benda yang ada di sekitarnya.     
          Selain itu, dia sedih karena anaknya lepas dari gendongan. Dia kesulitan membedakan anaknya dengan hewan-hewan lainnya. Setiap ada hewan yang lewat dihadapannya selalu ditangkap karena menyangka itu anaknya. Namun,  ketika mendengar suara hewan yang ditangkap berbeda dengan suara anaknya maka segera melepaskannya lagi.
        Sepanjang hari, si kera tanpa rasa lelah mencari anaknya. Sambil menangis dan merayap-rayap ke tengah hutan dibawah asap yang semakin tebal ia terus mencari keberadaan anaknya. 
                                                                 ***   
          Kebetulan tidak jauh dari tempat tersebut ada seekor kucing. Si kucing juga merasakan matanya pedih kena asap. Ketika ia merayap-rayap mencari jalan untuk menjauhi hutan, tiba-tiba tubuhnya ditangkap  si Kera. 
         Si kucing terkejut. Tiba-tiba tubuhnya dirangkul dan dipeluk erat-erat oleh si Kera. Lalu si Kera yakin kalau yang ada di gendongannya adalah anaknya yang hilang.
         Tentu saja si kucing ketakutan. Dia tidak mau berteriak dan mengeluarkan suara. Dia takut jika ketahuan bahwa dirinya kucing maka si Kera akan marah dan akan melukai dirinya. 
         Akhirnya, dia diam saja digendong si kera. Ia tidak mengeluarkan suara sama sekali. Semua perlakuan si kera dituruti saja tanpa berani melawannya. Apalagi si kera senantiasa memeluk dan menggendong si kucing kemana saja dengan penuhkelembutan.
        “Astaghfirullahaladziem ...aku ingat kamu belum makan, ya anakku?” kata si Kera sambil mengambil setandan pisang. 
          Lalu, satu per satu pisang dibuka dan dimasukkan ke mulut si kucing. 
          Si kucing terkejut. "Pisang bukan makananku," pikir kucing. Ia enggan disuruh makan pisang. Ia berniat berlari dari rangkulan si kera namun tidak bisa, karena rangkulan si kera terasa kuat ke tubuhnya. 
        Akhirnya, si kucing mencoba diam dan bersabar. Mula-mula ia mau saja diberi sepotong pisang. Namun, setiap potongan pisang yang telah masuk ke dalam mulutnya segera dimuntahkan. Hal ini dilakukannya berkali-kali sampai  pisang yang ketiga  
        Namun, lama-lama kesabarannya habis. Ketika si kera akan menyuapi dengan pisang yang keempat maka ia nekad dan spontan berteriak  :  “Meooong....Meooong...Meooongg” 
          Betapa kaget si kera. Ternyata hewan yang digendongnya  bukan anaknya melainkan hanyalah seekor kucing. Karena terkejut ia melemparkan dan membanting si kucing ke atas tanah agar pergi sejauh-jauhnya. 
          "Aduuuuhhh...Meooooonngg..meoonggg.... meonnggg....sakiittt'" teriak si kucing sambil lari menjauh.
         “Huuhuhuhuhuhuhu...ternyata anakku benar-benar hilang,” kata si kera sambil menangis sesenggukan.
          Si kucing merasa iba mendengar kesedihan si kera. Sambil berlari menjauh dia berjanji akan membantu mencari anak si kera yang hilang.
         “Terima kasih kawan. Semoga kebaikanmu dibalas yang setimpal oleh Allah swt,” kata si kera.




Selesai



Sumenep, 3 Mei 2014

     

Saturday, April 12, 2014

KISAH DOKTER KELINCI DAN PAK BUAYA (oleh : aguskarianto)

ilustrasi : aguskarianto


         Dokter kelinci baik hati. Dia suka menolong siapa saja. Tidak pandang bulu. Ia ikhlas menolong. Bila ada pasien tidak mampu maka dia tidak segan-segan membebaskan biayanya. Semua hewan pernah ditanganinya. Semua penyakit berhasil disembuhkan atas seizin Allah lewat tangannya.
         Rupanya sikap dermawan dan baik hati si kelinci akan dimanfaatkan si buaya yang punya perangai buruk. Dia punya niat jahat akan melenyapkan si kelinci dari muka bumi. Dia iri hati melihat kebaikan si kelinci kepada sesamanya. Dia juga dengki melihat semua hewan menyayangi si kelinci. Oleh karena itu, ia berniat akan melahap tubuh si kelinci.
         Suatu hari, si buaya pura-pura sakit gigi. Dia berkunjung ke dokter kelinci. Si kelinci tidak menyadari akan bahaya yang menganacam dirinya. Dia tetap berbaik sangka terhadap kedatangan seluruh pasien termasuk kepada si buaya. Ia tetap memperlakukan si buaya seperti pasien-pasien lainnya. Si kelinci lalu memeriksa.
         “Wah, gigimu ternyata baik-baik saja kok, Pak buaya. Tidak ada tanda-tanda sakit seperti yang kau bilang tadi,” kata si kelinci sambil terus memeriksa satu demi satu gigi si buaya.
         “Tapi...aku merasakan sakit....aduuhhhh....sepertinya gigi yang terdalam yang terasa sakit ,” kata si buaya sambil terus berpura-pura mengaduh kesakitan. Namun dalam hati si buaya mulai menyusun siasat agar si kelinci memasuki lebh dalam ke mulutnya. Nah, begitu dia ada di dalam mulutnya maka dia akan menyantap tubuhnya. “Iyaaa...tuh gigi yang paling dalam yang sakit, dokter kelinci. Ayo dong segera periksa gigiku. Masuk ke dalam mulutku juga nggak apa-apa kok”.
          Rupanya si dokter kelinci tidak kalah cerdik. Dia sadar bahwa si buaya akan berbuat jelek terhadapnya. Diam-diam dia segera mengambil dua potongan bambu untuk ditaruh di atas rahang bawah si buaya tanpa sepengetahuan pasiennya. Si dokter kelinci merasakan keanehan dengan sikap si buaya. Dia merasa yakin bahwa gigi si buaya sebenarnya sehat tetapi mengapa dia tetap ngotot mengatakan bahwa giginya sakit. Bahkan si buaya senantiasa menyuruhnya untuk memeriksa gigi terdalamnya. Itu artinya tubuhnya harus masuk ke mulut si buaya. “Wah, gawat kalau tiba-tiba mulut si buaya tertutup maka tamatlah riwayatku,” demikian kata si kelinci dalam hati. Namun dia tetap mengikuti perintah si buaya. Ia mencoba memeriksa gigi terdalam si buaya dengan memasuki mulutnya.  “Iya betul Tuh gigi terdalamku yang terasa sakit." kata si buaya.  “Rasain kamu dengan sekali katupan mulutku maka si kelinci akan tewas di tanganku,” pikir si buaya.
          “Iya benar bagian gigi terdalamku....masukkan saja tubuhmu ke mulutku agar pemeriksaannya lebih akurat,” kata si buaya.
           Dan ketika tubuh dokter kelinci telah memasuki mulut si buaya, tiba-tiba si buaya dengan sekuat tenaga cepat-cepat mengatupkan kedua rahangnya sambil tertawa terbahak-bahak."Hahahaha...rasakan jebakanku...!!"
          “Kraaakkkk....aduuhh...aduuuhhh....aduuhhh....gigiku sakit...gigiku sakit....aduuuhhh..gigiku benar-benar sakit dokter kelinci,” demikian teriak si buaya sambil meraung-raung kesakitan sambil berlarian ke sana kemari.
          Si kelinci terperanjat. Rupanya si buaya benar-benar telah menjebaknya. Rupanya si buaya akan membunuhnya. Tetapi untung saja dia telah menyiapkan dua potongan bambu untuk mengganjal kedua rahang si buaya. Dan ketika mulut si buaya akan tertutup dia secepatnya melarikan diri dan pergi menjauh. Sementara itu, niat busuk si buaya hendak memangsa tubuh si kelinci gagal total karena si dokter kelinci lebih cerdik dengan menyiapkan antisipasinya bila si buaya mengatupkan mulutnya.
         “Keterlaluan kamu, Pak Buaya! Kamu hendak membunuhku, ya! Jahat benar sikapmu ! Kamu ternyata telah memiliki niat jelek terhadapku....pantas saja semua teman-teman menjauhimu.” kata si dokter kelinci sambil berlari menjauhi si buaya.
         Si buaya merasa niat jeleknya terbongkar. Akhirnya dia lari tunggang langgang sambil merasakan giginya benar-benar terasa sakit yang luar biasa akibat rahangnya tersusuk potongan bambu. 




selesai.-


pesan moral : siapa yang berniat jelek terhadap teman tentu akan mendapatkan balasan
                             sesuai dengan niat jeleknya.