Saturday, February 18, 2012

BALAS JASA SEMUT HITAM KEPADA BURUNG PIPIT

        Siang itu, ketenangan burung pipit dalam mengerami telurnya sedikit terusik, sebab ada seorang pemburu yang sejak pagi hari mondar-mandir sambil membawa senapan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri  mencari hewan buruan yang akan ditembaknya. Tentu saja burung pipit khawatir kalau saja dirinya yang akan menjadi sasaran tembak sang pemburu tersebut. Berkali-kali burung pipit berniat akan terbang menjauh, tapi niatnya dibatalkan ketika dilihatnya telur kesayangannya belum menetas juga. Jika sampai ia meninggalkan telur tersebut sekali saja tentu dirinya gagal melihat anaknya lahir. Dan telur tersebut tidak bakal menjadi burung pipit lagi.
       "Wah....bagaimana ini? Kalau sampai pemburu itu melihatku tentu aku akan ditembaknya dan matilah aku....Huuuu...bagaimana ini?!" gumam burung pipit resah dengan nasibnya. "Kalau aku terbang menjauh pasti telurku ini gagal menetas dan aku tidak bisa melihat anakku....huuuu....bagaimana ini."
        Burung pipit masih dalam kecemasan. Dia belai-belai telur yang ia erami. Berkali-kali ia pandangi telur tersebut dengan penuh harap agar segera menetas sehingga ia bisa secepatnya terbang menjauh agar tidak ditembak oleh pemburu. Ketika burung pipit mengintip sang pemburu untuk yang kesekian kalinya, kini hatinya makin gusar dan cemas sebab sang pemburu ternyata semakin dekat dengan tempatnya berada.
        "Aduuhh....sang pemburu semakin dekat saja dari rumahku ini," kata burung pipit dalam hati. "Kalau sekarang aku terbang tentu dia akan dengan mudah membidikku dengan senapannya. Kalau aku berdiam diri maka cepat atau lambat pasti dia akan mengetahui juga keberadaanku di sini. Yah, biarlah aku akan bersama telur kesayanganku saja! Bagaimanapun keadaannya aku harus tetap bersama calon anakku!" demikian kata burung pipit yang ingin tetap bersama calon anaknya bagaimanapun keadaannya.
         Ternyata dugaan burung pipit benar. Akhirnya. sang pemburu  mengetahui kalau di salah satu dahan pohon ada seekor burung pipit yang bertengger di sarannya dan bisa dijadikan sasaran tembaknya. Dan tidak berpikir panjang, dia segera menyiapkan senapannya. Dia mulai membidik burung pipit tepat di tengah tubuhnya agar tepat jadi sasaran tembak. Dan ketika senapannya akan diletupkan, tiba-tiba dia berteriak keras-keras....
         "Aduuuuhhhh.....sakiiiitttt....sakiiiitttt !" teriaknya. "Dooorr...." dan bersamaan dengan teriakan kesakitan sang pemburu terdengar juga letupan senjatanya. Ternyata saat dia merasa kesakitan tersebut bidikan senjata yang menuju burung pipit jadi melenceng. Konsentrasi sang pemburu buyar ketika dia merasakan kedua kakinya digigit oleh berpuluh-puluh semut hitam. Sang pemburu lari tunggang langgang menjauh dari tempat dimana burung bibit sedang mengerami telurnya.
         Burung pipit keheranan melihat kejadian tersebut. Kenapa sang pemburu batal menembak dirinya? Kenapa dia sekarang malah lari tunggang langgang? Ada apa sebenarnya?
         "Alhamdulillah....kita berhasil mengusir sang pemburu yang mau menembak teman kita, kawan," teriak semut hitam kepada laba-laba. "Benar, semut! Kasihan burung pipit kalau sampai tertembak sang pemburu. Dia khan lagi menanti kehadiran anaknya.. Dia butuh ketenangan."
          Di dalam sarang, burung pipit hanya tersenyum mendengar teriakan teman-temannya. Ternyata mereka telah bekerjasama untuk menyelamatkan dirinya dari tembakan sang pemburu. Ternyata laba-laba dan semut hitam juga mengetahui bahwa sang pemburu akan menembak dirinya. Maka secepatnya laba-laba membentangkan tali jaringnya ke tempat dimana sang pemburu berdiri agar bisa dijadikan jalan bagi semut-semut hitam memasuki bagian-bagian kaki sang pemburu. Dan begitu sang pemburu akan menarik pelatuk senapannya maka secara serentak semut-semut hitam menggigit kuat-kuat kaki sang pemburu. Sehingga usaha pemburu akan menembak burung pipit bisa digagalkan.
           "Terima kasih, teman-teman," kata burung pipit sambil terus mengerami telurnya. Sementara laba-laba an semut hitam tertawa senang melihat keberhasilan usahanya mengusir sang pemburu dari dalam hutan.



selesai,-


Moral Cerita : bila kita menolong sesama maka suatu saat kita pasti akan ditolong sesama juga disaat kita membutuhkan pertolongan.

Friday, February 17, 2012

PERSAHABATAN BURUNG PIPIT, LABA-LABA DAN SEMUT HITAM

       Pagi itu udara sangat dingin, sebab semalaman langit terus menerus mencurahkan air hujan. Daun-daun dan permukaan tanah di tepi hutan masih basah. Sementara aliran air sungai lebih besar dari biasanya. Sehingga banyak daun dan ranting yang kering terhanyut ikut aliran air sungai.
       Di salah satu dahan pohon, nampak burung pipit berada di dalam sarangnya masih mengatupkan sayap untuk melindungi tubuh dari kedinginan. Dan tidak jauh dari sarang pipit ada seekor laba-laba berlindung di balik dedaunan sambil memperbaiki sarangnya.
       "Tolooongg....tolooongg....tolooonggg....!"
       "Tolonggg...toloooonngg...tolonnggg...anakku terhanyut aliran sungai!", demikian teriak Si semut hitam dari kejauhan memecahkan kesunyian pagi itu. Si semut hitam terus berlari di sepanjang tepi sungai. Dia menangis, resah dan cemas melihat anaknya hanyut terbawa aliran sungai. Oleh karena itu ia berteriak sekencang-kencangnya minta tolong teman-temannya untuk segera menolong anaknya tersebut.

FOTO : wikipedia
        Burung pipit dan laba-laba terkejut dan merasa iba mendengar teriakan si semut. Dan secepat kilat mereka mendatangi si semut hitam.
       "Memangnya anakmu sekarang ada dimana, semut?" tanya burung pipit.
       "Iya...anakmu kira-kira sudah sampai dimana, Semut?" tanya laba-laba pula.
       Si semut sulit untuk menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya. Ia terus menangis sambil tangannya menunjuk ke satu arah dimana anaknya berada. Anak semut nampak timbul tengggelam terbawa oleh aliran sungai.
       "Baiklah, teman!" kata burung pipit "Kamu tidak usah resah dan cemas...biar aku dan laba-laba akan berusaha menolong anakmu."
Kemudian burung pipit mengajak laba-laba untuk segera menolong anak semut. Mula-mula burung pipit memotong salah satu daun, lalu laba-laba mengikat daun tersebut dengan benang jaring yang dimilikinya. Setelah daun terikat kuat, lalu burung pipit membawa daun tersebut dengan paruhnya, sementara laba-laba telah siap bergelayutan di kaki pipi.
        "Kamu sudah siap, laba-laba?" tanya burung pipit
        "Siap....boss...ayo segera melaksanakan tugas mulia ini..." jawab laba-laba.
Maka seketika burung pipit terbang ke angkasa, sementara laba-laba bergelayutan di kaki kanannya. Burung pipit segera menuju sasaran dan berusaha mendekati anak semut yang terhanyut aliran sungai.
       "Hoiiii anak semut...kamu jangan resah dan cemas ya...kami segera menolongmu!" teriak laba-laba. "Sebentar lagi kami akan menjatuhkan selembar daun...kamu harus segera meraih dan naik ke atasnya yaaa....".
Dan segera burung pipit menjatuhkan daun yang dibawanya di samping anak semut. Sementara laba-laba mengendalikan laju daun agar bisa diraih anak semut.
      "Huppssss.....hupppsss....'" teriak anak semut sambil berusaha meraih selembar daun dan mencoba naik di atas permukaannya. Mulut anak semut menggigit tepian daun, sementara kedua kakinya dia dorong kuat-kuat untuk bisa berada di atas permukaan daun. "Eitsss....berhasil!" teriak anak semut.
       "Alhamdulillah....horeeee....horeeeee....horeeee....akhirnya kita berhasil menyelamatkan anak semut," teriak laba-laba dan burung pipit hampir bersamaan.  Kini laba-laba tetap menarik selembar daun yang dinaiki anak semut untuk dibawa burung pipit ke tepian sungai.
        Di kejauhan, Bu semut nampak bahagia sebab anaknya selamat dari aliran air sungai. Anak semut segera berlari mendekati ibunya dan tidak henti-hentinya larut dalam pelukan ibunya
        "Alhamdulillah....terima kasih teman-temanku!" katanya "Aku tidak bisa membayangkan seandainya tadi tidak ada pertolongan kalian. Dan entah harus bagaimana aku membalas kebaikan budi kalian. Jasa kalian tidak akan aku lupakan dan suatu saat aku akan membalasnya."
         Burung pipit dan laba-laba ikut tersenyum dan merasa bahagia melihat kebahagiaan yang dialami Bu semut hitam karena bisa berkumpul lagi dengan anaknya.
        "Ahhhh....Bu semut hitam ada-ada saja. Bukankah kita hidup ini harus saling tolong menolong. Dan sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong sesama. Kita hidup tidak boleh terlalu mementingkan diri sendiri. Tidak boleh egois. Tidak boleh masa bodoh dengan teman yang memerlukan bantuan kita. Siapa tahu suatu saat kita juga memerlukan bantuan juga"
         Bu semut hitam nampak bahagia, anak semut hitam terus bergelayutan di pelukan ibunya, sementara burung pipit dan laba-labapun ikut tertawa melihat tingkah polah anak semut hitam yang menggemaskan di pelukan ibunya.



selesai,-



Moral Cerita : Hidup di dunia itu jangan egois. Dan bersikaplah seperti burung pipit dan laba-laba
                        yang senantiasa ringan tangan bekerjasama dalam team 
                        demi satu tujuan membantu teman-temannya yang memerlukan bantuan.

Wednesday, January 25, 2012

KUALI RETAK

       Siang itu seperti biasanya, Pak Ahmad selalu mengisi sampai penuh bak mandinya dengan air sungai menggunakan kuali retaknya. Setelah itu, dia menaruh begitu saja kuali retaknya di sudut taman. Si kuali retak hanya bisa terdiam dan senantiasa berkeluh kesah menyesali nasibnya.
        "Hu..hu.hu...kenapa nasibku terus begini," kata si kuali retak "Andai saja bentuk tubuhku tidak jelek, hitam dan retak seperti ini, tentu hidupku akan lebih bahagia. Sungguh sial hidupku..."
      Tidak jauh dari si Kuali Retak berkeluh kesah, ternyata ada sekuntum bunga mawar yang memperhatikannya.
       "Hai, kenapa kamu  menangis, kuali retak ?" tanya si bunga mawar. "Ada persoalan apa?"
        Si kuali retak tidak menjawab pertanyaan si bunga mawar. Bahkan sebaliknya dia menangis semakin kera. 
       "Hu...hu...huuu...jangan pedulikan aku!" bentak si kuali retak. "Biarkan aku yang merasakan kesedihanku sendiri. Memang nasib si kuali retak yang jelek harus begini"
       "Iya..., memangnya ada apa denganmu, kuali retak? Mengapa kamu selalu menyesali nasibmu?"
       Mendengar si mawar terus berusaha menghiburnya, membuat si kuali retak luluh hatinya.Kemudian ia menceriterakan masalah yang telah dihadapinya.
       "Begini, Mawar," kata si Kuali Retak mulai bercerita. "Kau kan tahu, di antara seluruh penghuni taman ini, sepertinya akulah yang tidak ada gunanya. Aku tidak memiliki prestasi apa-apa. Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Tubuhku hitam, jelek dan retak. Aku kasihan melihat Pak Ahmad merasa tersiksa setiap kali mengambil air ke sungai. Akibat tubuhku yang retak maka beliau harus berjalan berkali-kali dari rumah ke sungai untuk memenuhi bak mandi. Air yang ada di tubuhku senantiasa bocor kemana-mana. Aku memang tidak berguna. Aku bisanya cuma menyusahkan Pak Ahmad saja. Aku memang layak dibuang. Aku layak menjadi barang  rongsokan!"
        Si mawar merasa iba mendengar cerita si kuali retak. "Si kuali retak rupanya belum mengerti akan hakekat kehidupan," pikir si mawar. "Kalau kita selalu membandingkan hidup kita dengan teman yang telah sukses maka segala apa yang telah kita capai akan terasa tidak berguna. Akibatnya akan timbul rasa tidak puas dan kurang rasa syukurnya terhadap apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita."  

        "Astaghfirullahaladziem... jangan berkata seperti itu, teman." kata si mawar kemudian. "Bukankah ada firman Alloh swt yang berbunyi bahwa semua yang ada di alam semesta ini pasti ada manfaatnya bagi yang lain. Kamu jangan merasa rendah diri dengan bentuk tubuhmu. Tidakkah kau sadar bahwa akibat tubuhmu yang retak itu kau sudah memberi manfaat banyak bagi teman-temanmu," kata si Mawar.
       Si Kuali Retak semakin tidak mengerti arah pembicaraan si Mawar. 
       "Manfaat bagi teman-temanku? Manfaat  apa?"
       "Begini, kuali retak!" kata si  Mawar meyakinkan. "Memang tubuhmu retak, hitam dan kamu sendiri terlalu sibuk menyesali diri. Kau sibuk berkeluh kesah. Kau sibuk menyalahkan diri sendiri.  Kau jarang mensyukuri hikmah dibalik tubuhmu yang retak itu. Akibat tubuhmu yang retak itu kamu siram kami dengan tetes-tetes air sehingga tubuhku jadi segar dan kami bisa terus bertahan hidup. Dan kini aku bisa berbunga lagi. Kami berterima kasih atas kebaikanmu, kawan."
         Si kuali retak terdiam. Ia senantiasa membenarkan ucapan si mawar. Kini ia sadar betapa bodohnya dirinya tidak bisa mengambil nilai positif dari kekurangan tubuhnya. Ternyata dibalik semua yang kita miliki ternyata ada hikmah yang tidak kita sadari.
      Ternyata dibalik ketidaksempurnaan tubuhnya, ia masih berjasa mengisi bak mandi Pak Ahmad. Selain itu tanpa ia sadari banyak teman-teman masih merasakan segarnya tetes-tetesan air lewat retak-retak tubuhnya."
Dan yang lebih membanggakan si kuali retak adalah ia bisa melihat keindahan bunga mawar yang harum baunya.
      


selesai,-


Pesan Moral :
Jangan suka membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Bersyukurlah dengan hidup anda sekarang. Dan senantiasa berpikirlah positif terhadap hidup anda dan berikanlah manfaat yang maksimal bagi lingkungan dimana  anda tinggal.

CAPUNG YANG SOMBONG

ilustrasi : agus karianto
       Sejak perang teluk dimenangkan oleh tentara koalisi yang menggunakan teknologi pesawat helicopter canggih, ternyata membuat si Capung sombong dan angkuh. Sikap si capung jadi berubah terhadap teman-temannya. "Ternyata, teknologi yang meniru bentuk tubuhku bisa memenangkan perang khan," kata si capung menyombongkan diri. Setiap kali bertemu sahabatnya, ia senantiasa berlagak sombong dan suka berkata-kata yang menyakitkan. Bagi si capung, semua sahabatnya tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya. Kalau ada sahabatnya mau memperlihatkan prestasi maka serta merta si capung akan berusaha mati-matian menjatuhkan mentalnya. Menghina. Meneror dengan kata-kata, bahkan tidak segan segan mengeluarkan fitnah agar sahabatnya tidak bisa berprestasi menyamai dirinya. "Gengsi kalau ada teman-teman yang berprestasi menyamai prestasiku," demikian kata si capung.
        Sikap si capung ini cukup meresahkan teman-temannya. Tidak ada yang berani menentang apa yang dikatakan si capung. Berdebat saja mereka selalu kalah, apalagi kalau memakai kekuatan fisik. Mereka ketakutan. Namun, semakin teman-teman si capung ketakutan atas sikap si capung, membuat si capung tambah sombong dan berlaku sewenang-wenang. Segala perintah si capung harus ditaati walau dalam hati sebenarnya berusaha menentangnya.
        Suatu saat, teman-teman si capung berkumpul untuk menyusun cara bagaimana menyadarkan kelakuannya yang semakin menjadi-jadi. Dan atas kesepakatan bersama, mereka akan menjebak si capung dengan menggunakan lem yang terbuat dari gelang karet yang direndam dalam minyak tanah selama seharian.
       "Nah, sekarang lem ini sudah jadi, teman-teman," kata kupu-kupu
       "Pasang lem di ujung sebuah lidi, lalu kita letakkan lidi tersebut di tanah lapang. Tentu si capung yang sombong itu akan menghinggapinya. Dan mari kita lihat apa yang bisa diperbuat dengan kesombongannya"
       Lalu mereka bersama-sama memasang lidi yang ujungnya diberi lem ke tengah lapang. Kemudian mereka melihatnya di kejauhan.
       Dan sudah menjadi kebiasaan, si capung selalu hinggap di tempat yang lebih tinggi dari tempat yang lainnya, maka ketika dia melintas di tanah lapang  segera hinggap di ujung sapu lidi tanpa menyadari bahwa sebenarnya lidi itu adalah jebakan buatnya.
       "Aduuuh....aduuuhhh...aduuhhh....tolong..tolong...toloooongg," teriak si capung saat tubuhnya lengket di atas lidi.
       "Horeee....horeee...horeee....," teriak teman-teman si capung sambil berlari mendekati si Capung yang kini tubuhnya tidak berdaya dipenuhi  lem.
       "Tolong aku, teman-teman...bebaskan aku dari lem yang menjijikkan ini, teman-teman," rintih si capung.
       "Hah...minta tolong?! Apa tidak salah pendengaranku? Hewan yang merasa dirinya kuat, perkasa, dan tidak ada teman yang sanggup menandinginya kok kini tidak berdaya...minta tolong lagi...Dimana kekuatanmu si sombong!"
        "Biarkan saja dia merasakan akibat keangkuhan dan kesombongannya!" bentak yang lain. "Biar dia sadar dan merasakan kalau hidup di dunia ini seharusnya saling tolong menolong, tenggang rasa, tidak sok jago, tidak semaunya sendiri! Kalau kamu sudah terjebak tak berdaya seperti ini lalu apa yang bisa kamu perbuat? Apa bisa kamu menolong diri sendiri dengan sikap angkuh dan sombongmu itu?"
         Mendengar penuturan teman-temannya, membuat si capung menangis dalam hati. "Memang benar kata teman-temannya, apa yang bisa ku perbuat sekarang ini?" pikirnya. Kini dia menyadari akan sikapnya yang salah selama ini. Sikap angkuh, sombong, mau menang sendiri, tidak suka menolong teman yang kesusahan tentu akan berdampak jelek bagi hidupnya, karena hidup di dunia ini tidak bisa hidup menyendiri tetapi perlu saling tolong menolong dengan sesama.


selesai,-


Pesan Moral :

hidup di dunia ini harus bisa tenggang rasa, saling tolong menolong dan tidak boleh merasa menang sendiri

KISAH PERSAHABATAN KUCING DAN ANGSA (oleh : aguskarianto)


gambar : agus karianto
                                                                  oleh Agus Karianto
Dahulu kala, kucing dengan angsa hidup rukun. Dimana ada kucing, pasti disitu ada angsa. Mereka senantiasa berbagi suka dan duka bersama. Bila si angsa diganggu hewan lain maka spontan si kucing membelanya. Bahkan si Angsa  rela menyisihkan sebagian tempat tidurnya untuk kucing. Seandainya si kucing mendapatkan makanan tentu akan dibagi bersama dengan si angsa. Demikian pula sebaliknya, apabila si angsa yang mendapatkan makanan maka si kucing akan mendapatkan jatahnya juga.
          Suatu hari, ketika si kucing berjalan-jalan di pematang tambak, dia menemukan seekor ikan bandeng. Ukurannya cukup besar dan baunya harum. Dia lalu segera mengambilnya dan secepatnya lari menuju salah satu gubuk di pematang tambak. Berkali-kali ia memandangi ikan bandeng yang ditemukannya. Dan berkali-kali pula air liurnya keluar. Ia ingin segera menyantap ikan bandeng tersebut, namun seketika niatnya batal ketika ingat akan sahabatnya, si angsa,  yang sekarang ada di rumah. "Wah, kalau saja ikan ini harus saya bagi dengan si angsa... tentu aku cuma mendapatkan setengahnya," demikian pikir si kucing. "Padahal ikan ini enak sekali. Andai saja aku membagi ikan ini sama besar...lalu aku dapat bagian ekornya maka si angsa akan dapat bagian kepalanya. Padahal kepala ikan adalah makanan yang paling aku suka. Andai saja aku dapat bagian kepala, sedangkan si angsa dapat ekornya, tentu aku kehilangan bagian tubuh ikan yang banyak dagingnya. Aduuhhh...bagaimana ini?" pikir si kucing kebingungan karena dia mulai punya sikap tidak adil dan tidak mau berbagi dengan temannya.
       "Ah, biarlah aku tidak akan membagi ikan ini dengan si angsa. Toh, dia tidak tahu kalau aku menemukan ikan. Aku akan makan ikan ini secara sembunyi-sembunyi saja."
Lalu di kucing membawa ikan tersebut ke gudang pembuatan batik yang tempatnya cukup jauh dari rumah si angsa. Namun dugaan si kucing salah, ternyata si angsa juga ada di tempat tersebut untuk mencari makanan.
      "Hai, kawan mau kemana?" sapa si angsa. " Wah... kamu dapat makanan yang lezat ya?" 
Si kucing terkejut. Nyaris ikan yang dibawanya hampir terlepas dari gigitannya. Tubuhnya gemetaran karena niat buruknya ingin makan ikan sendirian akhirnya ketahuan si angsa. Dia berniat mau lari menghindar, namun si angsa segera menyusulnya. "Hoi, kucing mau kemana kamu dengan membawa makanan itu ?!" teriak si angsa. "Kamu mau menghindar dari aku ya? Kamu mau menikmati makanan itu sendirian ya? Kamu  mau berbuat curang kepadaku ya?"
Si kucing tidak menghiraukan teriakan si angsa. Dia lari semakin cepat dan berusaha memanjat meja. "Di atas meja ini tentu si angsa tidak bisa mengejarku," pikir si kucing. Kini si kucing bersembunyi di balik ember berisi cairan lilin untuk membatik agar tidak kelihatan temannya. Sebaliknya si angsa hanya mondari-mandir ke sana kemari di bawah meja sambil menunggu si kucing turun.
"Sialan, si angsa tidak segera pergi juga!" kata si kucing dalam hati. "Bikin aku tidak tenang saja menikmati ikan ini." Lalu si kucing berfikir sejurus untuk mencari cara bagaimana agar si angsa segera pergi jauh-jauh. Tiba-tiba dia mengambil ember berisi cairan lilin dan perlahan-lahan ia menyiramkannya ke tubuh si angsa.
       "Aughhh....panas...panas....dasar kucing sialan! Tidak bisa membalas budi! Awas...awas...awas...kamu ya....," demikian teriak si angsa sambil lari tunggang langgang mencari air untuk menghilangkan cairan lilin dari tubuhnya. Sementara si kucing lari menjauh menghindari ancaman si angsa.
Dan sejak saat itu setiap kali si angsa ketemu air selalu membenamkan tubuhnya ke dalam air sambil  mengepak-ngepakkan sayapnya untuk menghilangkan cairan lilin dari tubuhnya sambil berkata : "Awas...awas...awas...". Sedangkan si kucing selalu ketakutan dan menghindar dari air, sebab ia takut  bulu-bulunya terkena limbah cairan lilin di air yang digunakan si angsa mandi.


selesai,-


Moral Cerita :

persahabatan yang telah dibangun susah payah ternyata bisa berantakan akibat salah seorang memiliki sikap serakah, tidak mau berbagi dan lebih mementingkan diri sendiri.