Kunjungan

Saturday, April 12, 2014

KISAH DOKTER KELINCI DAN PAK BUAYA

ilustrasi : aguskarianto


         Dokter kelinci baik hati. Dia suka menolong siapa saja. Tidak pandang bulu. Ia ikhlas menolong. Bila ada pasien tidak mampu maka dia tidak segan-segan membebaskan biayanya. Semua hewan pernah ditanganinya. Semua penyakit berhasil disembuhkan atas seizin Allah lewat tangannya.
         Rupanya sikap dermawan dan baik hati si kelinci akan dimanfaatkan si buaya yang punya perangai buruk. Dia punya niat jahat akan melenyapkan si kelinci dari muka bumi. Dia iri hati melihat kebaikan si kelinci kepada sesamanya. Dia juga dengki melihat semua hewan menyayangi si kelinci. Oleh karena itu, ia berniat akan melahap tubuh si kelinci.
         Suatu hari, si buaya pura-pura sakit gigi. Dia berkunjung ke dokter kelinci. Si kelinci tidak menyadari akan bahaya yang menganacam dirinya. Dia tetap berbaik sangka terhadap kedatangan seluruh pasien termasuk kepada si buaya. Ia tetap memperlakukan si buaya seperti pasien-pasien lainnya. Si kelinci lalu memeriksa.
         “Wah, gigimu ternyata baik-baik saja kok, Pak buaya. Tidak ada tanda-tanda sakit seperti yang kau bilang tadi,” kata si kelinci sambil terus memeriksa satu demi satu gigi si buaya.
         “Tapi...aku merasakan sakit....aduuhhhh....sepertinya gigi yang terdalam yang terasa sakit ,” kata si buaya sambil terus berpura-pura mengaduh kesakitan. Namun dalam hati si buaya mulai menyusun siasat agar si kelinci memasuki lebh dalam ke mulutnya. Nah, begitu dia ada di dalam mulutnya maka dia akan menyantap tubuhnya. “Iyaaa...tuh gigi yang paling dalam yang sakit, dokter kelinci. Ayo dong segera periksa gigiku. Masuk ke dalam mulutku juga nggak apa-apa kok”.
          Rupanya si dokter kelinci tidak kalah cerdik. Dia sadar bahwa si buaya akan berbuat jelek terhadapnya. Diam-diam dia segera mengambil dua potongan bambu untuk ditaruh di atas rahang bawah si buaya tanpa sepengetahuan pasiennya. Si dokter kelinci merasakan keanehan dengan sikap si buaya. Dia merasa yakin bahwa gigi si buaya sebenarnya sehat tetapi mengapa dia tetap ngotot mengatakan bahwa giginya sakit. Bahkan si buaya senantiasa menyuruhnya untuk memeriksa gigi terdalamnya. Itu artinya tubuhnya harus masuk ke mulut si buaya. “Wah, gawat kalau tiba-tiba mulut si buaya tertutup maka tamatlah riwayatku,” demikian kata si kelinci dalam hati. Namun dia tetap mengikuti perintah si buaya. Ia mencoba memeriksa gigi terdalam si buaya dengan memasuki mulutnya.  “Iya betul Tuh gigi terdalamku yang terasa sakit." kata si buaya.  “Rasain kamu dengan sekali katupan mulutku maka si kelinci akan tewas di tanganku,” pikir si buaya.
          “Iya benar bagian gigi terdalamku....masukkan saja tubuhmu ke mulutku agar pemeriksaannya lebih akurat,” kata si buaya.
           Dan ketika tubuh dokter kelinci telah memasuki mulut si buaya, tiba-tiba si buaya dengan sekuat tenaga cepat-cepat mengatupkan kedua rahangnya sambil tertawa terbahak-bahak."Hahahaha...rasakan jebakanku...!!"
          “Kraaakkkk....aduuhh...aduuuhhh....aduuhhh....gigiku sakit...gigiku sakit....aduuuhhh..gigiku benar-benar sakit dokter kelinci,” demikian teriak si buaya sambil meraung-raung kesakitan sambil berlarian ke sana kemari.
          Si kelinci terperanjat. Rupanya si buaya benar-benar telah menjebaknya. Rupanya si buaya akan membunuhnya. Tetapi untung saja dia telah menyiapkan dua potongan bambu untuk mengganjal kedua rahang si buaya. Dan ketika mulut si buaya akan tertutup dia secepatnya melarikan diri dan pergi menjauh. Sementara itu, niat busuk si buaya hendak memangsa tubuh si kelinci gagal total karena si dokter kelinci lebih cerdik dengan menyiapkan antisipasinya bila si buaya mengatupkan mulutnya.
         “Keterlaluan kamu, Pak Buaya! Kamu hendak membunuhku, ya! Jahat benar sikapmu ! Kamu ternyata telah memiliki niat jelek terhadapku....pantas saja semua teman-teman menjauhimu.” kata si dokter kelinci sambil berlari menjauhi si buaya.
         Si buaya merasa niat jeleknya terbongkar. Akhirnya dia lari tunggang langgang sambil merasakan giginya benar-benar terasa sakit yang luar biasa akibat rahangnya tersusuk potongan bambu. 




selesai.-


pesan moral : siapa yang berniat jelek terhadap teman tentu akan mendapatkan balasan
                             sesuai dengan niat jeleknya.                                                                      

Monday, March 10, 2014

KISAH HAMBURGER

illustrasi : agus karianto
          Malam itu terjadi pertengkaran di gudang penyimpanan bahan Hamburger. Si daging sedang membentak-bentak si selada keriting. Si daging merasa statusnya sebagai bagian hamburger yang terlezat diambil alih oleh si selada keriting. Dulu, setiap penikmat hamburger senantiasa mengagumi kelezatan si daging, namun akhir-akhir ini si selada keriting yang selalu dipuji penikmat hamburger.
         Plak! si daging mengibaskan tubuh si selada keriting. Tubuh si selada keriting sempoyongan nyaris jatuh. Namun si tomat, si saus dan si kentang secepatnya meraih tubuh si selada keriting agar tidak jatuh.
        "Hei, memangnya aku salah apa, daging?" tanya si selada keriting.
        Namun si daging pura-pura tidak mendengar teguran si selada keriting. Ia cuek sambil berusaha lagi meraih tubuh si selada keriting untuk dilemparkan lagi. Tetapi, kali ini si selada keriting segera menghindar.
       "Hei, ada apa ini? Kenapa kamu berkali-kali ingin menjatuhkan aku?" bentak si selada keriting.
       "Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, kamu ya!" teriak si daging.
       "Lho..lho..lho...aku semakin tidak tahu arah pembicaraanmu, kawan'"
       "Iya...memangnya ada apa denganmu, daging?" tanya si tomat dan si kentang nyaris bersamaan.
       "Kalian berdua diam! Kalian tidak ada urusannya dengan masalah ini!" bentak si daging agak angkuh.
       "Wuah...tidak bisa...kita selama ini berteman, nah kalau ada teman yang mendapat perlakuan tidak adil maka kami wajib membelanya."
       "Memang kalian ini dari kampung. Kalian asalnya dari desa. Kalian ini bisanya merebut kedudukan teman saja. Tingkah kalian kampungan!" kata si daging.
       Si selada keriting, si tomat dan si kentang makin bingung mendengar arah pembicaraan si daging. Apa hubungannya asal mereka dengan sikap marah-marah si daging kepada mereka.
       "Kalau ada masalah sebaiknya kita bicarakan bersama, kawan, biar tidak ada salah pengertian diantara kita. Bukankah kita selama ini teman seperjuangan." kata si selada keriting.
       "Benar itu...aku setuju dengan ucapan si selada keriting."
       Namun, si daging semakin naik pitam mendengar kata-kata si selada keriting. Dia semakin kalap sambil melompat ingin meraih tubuh si selada keriting. Akan tetapi, si tomat dan si kentang berusaha melindungi tubuh si selada keriting. Lalu secepat kilat mereka meraih tubuh si daging untuk dilemparkan sejauh-jauhnya.
        Bug..bug..bug..bug..bug...tubuh si daging jatuh berguling-gulingan di atas tanah.
        "Aduuuhhh...tolong...tubuhku sakit...tolong..tolong..."
        "Hahahahahahahaha....." si roti yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran mereka tidak bisa menahan tawanya melihat si daging jatuh berguling-guling. "Lucu....hahahahahaha"
        "Sialan...apanya yang lucu? Ada teman jatuh nggak mau nolong malah tertawa terbahan-bahak!" teriak si daging.
        "Lha memang kalian ini lucu...sesama teman seperjuangan kok malah bertengkar tanpa alasan yang jelas. Si daging merasa statusnya jatuh...merasa harga dirinya jatuh...merasa kedudukannya jatuh karena kedatangan si selada keriting. Sementara si selada keriting tidak merasa mengambil alih kedudukanmu. Dia merasa tidak merendahkan kedudukanmu. Nah..ini khan aneh sampai terjadi keributan?"
        "Tapi penikmat hamburger sekarang lebih suka makan selada keriting daripada makan daging. Mereka lebih suka menghabiskan selada keriting daripada menghabiskan daging. Aku sedih. Itu kan namanya menjatuhkan kedudukanku selama ini," kata si daging.
        "Hahahahaha kamu ini lucu, kawan. Jangan berdikap tolol seperti itu. Kamu harusnya banyak membaca buku kesehatan agar tahu penyebabnya mengapa para penikmat hamburger sekarang lebih menyukai selada keriting daripada daging. Perlu kamu tahu bahwa mereka takut kolesterolnya meningkat karena keseringan makan daging. Dengan makan sayur-sayuran seperti selada keriting, tomat, bawang bombay juga kentang maka sedikit mengurangi naiknya kadar kolesterol jahat mereka."
        "Oooo...kirain kenapa mereka tidak suka daging lagi," kata si daging penuh penyesalan. "Ternyata mereka takut kolesterol jahatnya meningkat sehingga membuat badannya sakit, ya?"
        "Naaa..h kamu akhirnya mengerti khan?" kata si selada keriting.
        "Iya...ternyata semua ini hanya salah duga saja, kawan," kata si daging. "Kalau begitu aku minta maaf ya, kawan atas tingkahku yang ceroboh tadi."
         "Hhahaahahaha  lupakan saja kejadian tadi, kawan. Bukankah kita  hidup ini untuk saling melengkapi. Tidak ada makhluk yang merasa lebih istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Semua makhluk mempunyai kedudukan yang sama. Masing-masing diberi kelebihan yang berbeda. Bukankah dengan adanya si roti, si tomat, si daging, si kentang, si bawang bombay, si selada keriting dan si saus akhirnya menjadi bentuk Hamburger. Coba bayangkan kalau si tomat atau si selada keriting tidak ada maka bukan disebut humberger lagi. Jadi kalau kita bersatu akhirnya menjadi hamburger yang enak rasanya."
         "Oke..oke..oke...aku setuju...kita harus bersatu...kita harus kompak lagi..."
         "Setuju....setuju....setuju....", kata mereka bersahut-sahutan sambil berangkulan satu dengan yang lain.



selesai...
sumenep, 10 Maret 2014

moral cerita : tidak ada mahkluk yang lebih istimewa daripada mahkluk yang lain di dunia ini.
                     semua memiliki keistimewaan dan potensi yang berbeda-beda.

Monday, February 24, 2014

KISAH BURUNG KAKAK TUA DAN SEMUT

ilustrasi : agus karianto
            Pagi itu, lereng gunung Kelud udaranya panas. Cuaca tidak seperti biasanya. Banyak hewan merasa  resah dengan perubahan cuaca hari itu. Sebagian burung, ular, kelinci, ayam hutan berlarian ke sana kemari. Tidak terkecuali seekor burung kakak tua yang bertengger di atas pohon jati. Hatinya resah. Dia berlompat-lompatan dari satu dahan ke dahan yang lain. Setiap kali berlompatan tidak lupa dia senantiasa menggigit tangkai dedaunan dan menjatuhkan ke atas tanah. Si burung kakak tua tidak menyadari bahwa akibat ulahnya menjatuhkan berlembar-lembar dedaunan ternyata menimpa kerajaan semut yang ada di bawahnya.
             "Hei, siapa yang berani mengotori kerajaanku !?" bentak sang Raja Semut. "Tumpukan dedaunan ini mengakibatkan kerajaanku tidak sehat karena sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam kerajaan."
             "Benar, paduka raja," kata rakyat semut. 
              "Semua ini akibat ulah si kakak tua."
              "Apa? Si kakak tua?" jawab sang raja.
             "Wah, berani sekali dia mengotori kerajaanku. Enak sekali dia menjatuhkan sampah dedaunan kedi kerajaanku. Kita setiap hari senantiasa menjaga kebersihan kerajaan agar lingkungan menjadi sehat tapi dia malah seenaknya saja mengotorinya dengan dedaunan-dedaunan ini," lanjut sang raja semut. "Wahai rakyatku, aku perintahkan kepada kalian untuk segera memanggilnya. Hadapkan dia kepadaku.  Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan seluruh rakyatku."
               Dan tanpa dikomando lagi maka berpuluh-puluh ekor semut bersiap-siap untuk bersama-sama pergi memanggil si kakak tua. Seluruh rakyat semut ikut jengkel dengan ulah si kakak tua.
               Namun tidak begitu lama ketika para semut akan berangkat pergi, tiba-tiba mereka mendengar bunyi seperti  hujan yang begitu deras disertai dengan lontaran batu-batu kerikil yang menimpa kerajaan mereka. Seluruh rakyat semut menjadi ketakutan. Mereka berlarian menuju rumah masing-masing untuk menyelamatkan diri. 
              "Hoiiiiii....semua masuk rumah....semua masuk rumah...selamatkan diri kalian masing-masing...sepertinya saat ini sedang terjadi hujan pasir dan hujan kerikil....ayo selamatkan diri kalian masing-masing...." teriak semut-semut sambil berlarian menyelamatkan diri. Dan dalam sekejap, semua semut telah memasuki rumah masing-masing. Akhirnya, suasana di luar kerajaan menjadi sunyi.Sepi.
              Di dalam rumahnya, semut-semut terus mendengar hujan pasir dan hujan batu kerikil semakin deras menimpa kerajaan semut. Seluruh semut semakin ketakutan. Mereka akhirnya menyadari bahwa saat ini gunung Kelud sedang meletus. Hujan pasir dan hujan kerikil yang dikeluarkan kali ini begitu dahsyat dibandingkan dengan tahun--tahun sebelumnya. Nyaris seluruh hutan tertimpa pasir dan kerikil. Rumah-rumah penduduk banyak yang rusak.
               "Heran, saat ini sedang hujan pasir dan hujan batu kerikil, namun kerajaan kita kok tidak kemasukan pasir dan kerikilnya, ya?" kata beberapa ekor semut keheranan.
               "Benar, kawan. Aneh ya....ternyata kerajaan kita sama sekali tidak tersentuh hujan pasir dan hujan batu kerikil gunung kelud. Ada apa ini?" seru semut yang lain keheranan.
                Kemudian beberapa ekor semut mencoba memberanikan diri keluar rumah.
               "Subhanallah!" teriak beberapa ekor semut saat berada di luar rumah.
               "Ada apa kamu kok teriak seperti itu, kawan?" tanya semut yang lain.
               "Coba lihat di atas kerajaan kita, kawan...apa yang kamu lihat di sana?"
               "Subhanallah...ternyata sampah-sampah dedaunan yang telah dijatuhkan si kakak tua bisa melindungi kerajaan kita dari hujan pasir dan hujan batu kerikil?'
               "Benar...rakyatku," kata si raja semut yang ikut menyaksikan keajaiban tersebut.
               "Ternyata hewan yang selama ini  kita maki-maki...kita anggap bodoh...kita anggap tidak sopan...kita anggap jorok...tapi ternyata dia memang telah dikirim Allah swt  untuk melindungi kerajaan kita dari keganasan gunung Kelud...dan akibat dia menjatuhkan berpuluh-puluh dedaunan di atas kerajaan kita ternyata ulahnya itu bisa menyelamatkan kita."
               "Benar...benar...benar...ternyata selama ini kita telah suudzon.Kita terlalu berprasangka burung kepadanya. Seharusnya kita patut berterima kasih kepada Allah swt yang telah mengirim si kakak tua untuk menyelamatkan kita."
               "Ayooo kita cari si pahlawan kakak tua itu....ayooo cari dia!"
               "Keeekkk...keekkk....keekkk...keekk..kekkk...Memangnya, siapa yang akan kalian cari?" terdengar teriakan dari balik dapur kerajaan. Dan seluruh semut serentak menoleh ke arah asal suara. Mereka yakin bahwa teriakan tersebut berasal dari mulut si kakak tua.
               "Hore....hore...horeee....ternyata si pahlawan kita ada di sini...si pahlawan kita masih selamat...hidup si kakak tua....hidup si kakak tua...hidup pahlawan kita...!!! teriak seluruh semut sambil menggandeng si kakak tua untuk dihadapkan ke hadapan raja mereka..
               "Alhamdulillah, apabila kalian semua bisa selamat," kata si kakak tua. "Kalian jangan terlalu berlebihan menyanjung aku sebagai pahlawan. Bukankah kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong."
               "Benar, kakak tua," kata raja semut. "Tapi kami layak berterima kasih kepadamu. Dan sekalian kami mewakili seluruh rakyat minta maaf kepadamu. Akibat ulahmu menjatuhkan berpuluh-puluh dedaunan kami sangka itu suatu tindakan jorok dan bodohmu. Tetapi ternyata akibat ulahmu kami bisa selamat dari keganasan hujan pasir dan hujan kerikil gunung Kelud. Selama ini kami telah salah sangka menilai kamu.Kami merasa bersalah karena senantiasa memakimu, menuduhkamu bodoh, jorok, dan panggilan kurang pantas yang lain. Apa jadinya dengan kerajaan semut apabila tidak dilindungi dengan dedaunan yang kamu jatuhkan itu. Maafkan kami."
              "Ya lupakan saja apa yang telah terjadi. Mari kita saling hidup rukun lagi untuk menyongsong masa depan bagi generasi penerus kita." kata si kakaktua sambil berjabat tangan dengan seluruh rakyat semut.



selesai,-


moral cerita : kejadian buruk yang menimpa kita terkadang merupakan usaha Allah swt untuk
                     menyelamatkan diri kita dari musibah, tetapi kita kurang peka menangkap
                     isyarat-Nya

Thursday, October 31, 2013

RAJA BIJAKSANA DAN 3 RAKYATNYA

ilustrasi : aguskarianto
        Ada sebuah kerajaan dipimpin seorang raja yang bijaksana dan adil. Dia enggan menggunakan kekayaan kerajaan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Seluruh harta kekayaan kerajaan digunakan untuk memakmurkan rakyatnya. Sehingga tidak heran, seluruh rakyat senantiasa menaruh hormat dan kagum kepada sang raja dan keluarganya. Dan tidak heran seluruh titah raja senantiasa dipatuhi dan dilaksanakan dengan ikhlas oleh rakyatnya.
        Suatu hari, baginda raja ingin menguji kesetiaan rakyatnya. Maka diutuslah seorang hulubalang untuk memanggil 3 orang rakyat yang telah dipilih secara acak oleh sang raja. Tidak lama kemudian, datanglah 3 orang rakyat yang dimaksud. Ketiga rakyat yang  dipanggil sang raja beranggapan bahwa tentu sang raja akan memberi hadiah yang istimewa kepada mereka, karena sang raja begitu dermawan kepada rakyatnya.
        "Assalamu'alaikum, rakyatku," sapa sang raja kepada ketiga rakyatnya yang telah berada di hadapannya.
        "Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, paduka. Kami bertiga menghaturkan salam hormat," jawab ketiganya serentak.
        "Hemmm...terima kasih kalian telah memenuhi undanganku. Aku memanggil kalian karena ingin memberi tugas untuk mengambilkan buah-buahan yang ada di wilayah kerajaan ini. Apa kalian mau mengerjakannya?"
        "Waaah... dengan senang hati hamba akan mengerjakannya, paduka," jawab ketiganya.
         Baginda raja senang mendengar jawaban yang tulus dan kesanggupan rakyatnya.
         Lalu sang raja memerintahkan seorang prajurit mengambilkan 3 buah keranjang besar.
        "Nah, masing-masing dari kalian harus memenuhi keranjang tersebut dengan aneka macam buah-buahan yang ada di wilayah kerajaan ini. Bila tugas kalian telah selesai maka bawalah buah-buahan tersebut ke hadapanku. Kalian mengerti?"
         Ketiga rakyatnya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu mereka pergi dengan membawa keranjangnya masing-masing.
         Ternyata, ketiga rakyatnya memiliki pemikiran yang berbeda terhadap tugas yang diembannya. Ada yang menganggap bahwa tugas sang raja adalah suatu kehormatan baginya, sehingga dia harus melaksanakan dengan senang hati dan  penuh keikhlasan serta berusaha mempersembahkan aneka macam buah berkualitas kepada raja mereka. Rakyat kedua menganggap perintah itu biasa saja, sang raja tentu tidak akan memperhatikan dan tidak mungkin akan menghitung buah yang dia kumpulkan. Bukankah sang raja telah makmur dan kaya-raya, tentu tugas ini hanya sekedar menguji kesetiaan saja. Oleh karena itu, ia sembarangan memetik  buah-buahan untuk sang raja. Buah-buahan mentah maupun yang sudah hampir busuk dia masukkan ke keranjang. Bahkan dia menata buah ke dalam keranjang juga sembarangan, tidak tertata. Selain itu. agar keranjangnya nampak menarik di hadapan sang raja maka dia sengaja menaruh buah-buahan yang segar dan masak di lapisan atas keranjangnya. Dan rakyat yang ketiga  beranggapan bahwa tugas dari sang raja adalah sebuah penghinaan baginya. Dia sudah merasa hidupnya enak, kaya. semua serba ada tetapi sekarang disuruh  mengambilkan buah buat si raja. Bukankah kalau sang raja ingin makan buah-buahan tinggal beli di pasar semua tentu ada. "Harta kerajaan khan banyak," pikir rakyat ketiga ini. Oleh karena itu, dia sengaja melaksanakan perintah raja dengan penuh kemalasan dan sembarangan. Dia ingin secepatnya memenuhi keranjangnya agar segera bisa mengakhiri pekerjaannya. Oleh karrena itu, dia  mengisi keranjangnya dengan buah-buahan yang asal petik saja. Tidak peduli buah masak ataupun buah masih muda ia masukkan ke keranjangnya. Dia senantiasa bekerja dengan ngedumel. Menggerutu. Tidak ikhlas dalam mengerjakan tugas. Apapun jenis buah yang ada di hadapannya dia masukkan ke dalam keranjang. Bahkan buah-buahan yang beracunpun dia masukkan keranjangnya juga. Dia sengaja melakukan hal itu karena ingin membalas kesewenang-wenangan sang raja kepadanya.
          Dan sore hari, ketiga rakyatnya telah mengisi seluruh keranjangnya dengan bermacam-macam buahan sesuai dengan yang dipesan sang raja. Mereka bersama-sama menghadap sang raja.
         "Wuah...kalian memang benar-benar rakyatku yang setia dan taat terhadap perintah raja. Aku kagum dengan ketaatan kalian. Nah..karena bekal kalian sudah banyak maka aku perintahkan kepada para prajurit untuk membawa kalian menempati pulau-pulau terpencil yang telah disiapkan kerajaan. Pulau itu dihadiahkan kepada kalian bertiga. Disana tidak ada makanan secuilpun. Oleh karena itu, selama di pulau tersebut kalian hanya dibekali dengan sekeranjang buah-buahan yang telah kalian kumpulkan," demikian perintah sang raja. Lalu para prajurit membawa mereka menyeberangi pulau untuk ketiga rakyatnya.
          Betapa terkejutnya ketiga rakyatnya mendengar titah sang raja. Sang raja memang telah menguji keikhlasan rakyatnya dalam mengabdi kepada rajanya. Perintah raja harus dilaksanakan.
         "Jadi semua buah ini untuk hamba paduka?!" kata mereka. Dan ketiga rakyatnya menyambut keputusan raja dengan raut wajah yang berbeda.
          Rakyat yang benar-benar ikhlas bekerja dan berusaha mempersembahkan kualitas terbaik dalam pengabdiannya maka akan merasakan kenikmatan dengan jerih payahnya untuk dirinya sendiri. Sementara rakyat yang menganggap biasa saja perintah sang raja maka akan menyesal karena tidak serius dan asal-asalan melaksanakan perintah sang raja. Sedangkan rakyatnya yang merasa perintah sang raja adalah sebuah penghinaan baginya dan melakukan tugas sembarangan maka akhirnya akan merasakan betapa sengsaranya hidup dengan bekal yang tidak berkualitas dan bekal yang terkesan asal-asalan.
         "Sebenarnya Aku tidak butuh dengan hasil pekerjaan kalian karena aku sudah kaya dan tidak membutuhkan semua itu. Aku memerintahkan kalian mengerjakan tugas karena aku ingin melihat sampai sejauh mana kualitas dan ketulusan pengabdian kalian kepadaku," kata sang raja sambil menatap ketiga rakyatnya yang berjalan pergi bersama para prajurit menuju pulau terpencil bagi ketiganya.


selesai,-

Saturday, October 26, 2013

KISAH SI KATAK DAN SI BELALANG

illustrasi : agus karianto

        

          Siang itu, kerajaan binatang sedang terjadi huru-hara. Seorang raksasa telah mengobrak-abrik seluruh desa. Tidak peduli rumah si kaya atau pun si miskin semua dirusaknya. Sarang-sarang binatang ikut dirusak pula. Seluruh makanan penduduk dia lahap sampai habis. Sumber air minum dia minum sampai habis juga. Akhirnya sumber makanan dan minuman di desa semakin menipis. Rakyat dan hewan-hewan semakin menderita karena kekurangan makanan dan minuman.
        Setiap hari si raksasa senantiasa mengejar-ngejar rakyat ataupun hewan-hewan. Dia tidak segan-segan melukai siapa saja yang ditemuinya. Dia merasa seolah-olah hanya dia sendiri yang bisa berkuasa di kampung yang sedang didudukinya. Apapun yang dilakukannya tidak ada yang berani memprotesnya. Rakyat dan hewan-hewan semakin marah dan resah melihat ulah si raksasa.  Namun mereka tidak bisa berbuat apa apa. 
       Akhir-akhir ini rakyat dan para hewan semakin geram dengan ulah si raksasa. Mereka marah karena si raksasa telah menyebarkan racun kepada seluruh rakyat dan hewan-hewan. Siapa saja yang terkena racun si raksasa maka seketika matanya terasa pedih dan akhirnya menjadi buta. Setiap pagi si raksasa senantiasa berjalan ke sudut-sudut kampung untuk mencari sasaran jadi korbannya. Rakyat dan hewan-hewan yang menjadi buta semakin resah dan sedih karena sekarang mereka tidak bisa berakitifitas lagi. Mereka tidak bisa bekerja mencari makan untuk anak-anaknya. Mereka hanya bisa berharap pertolongan dari yang maha kuasa agar ada seseorang yang bisa membebaskan penderitaan mereka.
      Siang itu, ada seekor katak  yang selamat dari racun si raksasa. Dia sedih melihat kampungnya semakin sepi karena penduduknya menderita buta. Dia sebenarnya ingin menolong mereka, namun karena tubuh  si katak kecil sehingga dia agak ragu untuk bisa melawan si raksasa sendirian. "Sekali diinjak pasti aku akan tewas di bawah kaki si raksasa," gumam si katak. "Tapi kalau bukan aku lalu siapa lagi  yang bisa menolong mereka? Kokon katanya penawar racun si raksasa tersimpan di dalam mulutnya. Aku harus bisa membuat dia membuka mulutnya agar penawan racun itu keluar. Aku haris bisa menggelitik tubuhnya agar mulutnya terbuka. Tapi mana aku sanggup hinggap di tubuhnya yang tinggi besar begitu?"
      “Assalamu'alaikum, teman-teman," sapa katak .
      "Wa'alaikumussalam warohmatullahiwabarokatuh...wah mendengar cara bicaranya... apakah kau si katak?" jawab si kudanil. "Kau masih selamat dan tidak buta, kawan?"
       "Alhamdulillah, kawan," jawab si katak. "Aku kebetulan memiliki kelopak mata yang besar yang bisa melindungi mataku saat si raksasa itu menyebarkan racunnya. Akhirnya aku selamat."
       "Tolonglah kami, Katak...tolonglah kami...tolonglah engkau cari obat penawar racun mata ini," 
       "Jangan khawatir, kawan..aku akan menolong kalian. Namun bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan penawar racun yang tersimpan dalam mulut si raksasa itu? Tubuhku amat kecil. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mengalahkan si raksasa itu?  apa yang bisa aku perbuat?"
       Dan semua hewan-hewan terdiam. Mereka tidak bisa menyalahkan sikap si katak yang takut menghadapi si raksasa. Mereka sadar bahwa tubuh si katak amat kecil dibandingkan dengan tubuh si raksasa. Akhirnya mereka menjadi putus harapan. Mereka pasrah dengan penderitaan yang dialaminya saat ini.
      Namun di tengah kebingungan mereka menyusun rencana untuk mengalahkan si raksasa, tiba-tiba majulah seekor belalang  buta yang memberanikan diri ingin bekerjasama dengan si katak untuk melawan si raksasa.
     “Aku mau melawan si raksasa.” kata si belalang buta
     “Hah? si belalang buta akan melawan si raksasa? Gila !”
     “Aku sebelumnya sudah menduga kalau kalian akan meragukan kemampuanku. Memang tubuhku kecil namun aku memiliki lompatan yang bagus daripada kalian. Kalau kita mengandalkan tenaga  tentu siapapun akan tidak sanggup menghadapi si raksasa.  Kita harus menggunakan akal untuk bisa mengalahkan si raksasa itu. Oleh karena itu aku akan bekerjasama dengan si katak untuk melawan si raksasa. "
     “Wah benar. Lompatanmu sangat jauh. Dan pasti kamu bisa secepat kilat mengalahkan si raksasa. Tapi bagaimana caranya?” kata pak sapi.
      “Lalu bagaimana kamu bisa melawan si raksasa. Bukanlah matamu juga buta, kawan?” tanya pak sapi.
       “Begini, Pak sapi. Si katak harus membawaku mendekati mulut si raksasa. Dan si katak harus mengarahan tubuhku tepat ke kepalanya. Nah aku usahakan hanya dengan sekali lompat aku harus bisa hinggap di mulut si raksasa. Bagaimana kamu sanggup, katak?”
     “Wuah...ide yang cemerlang. Ayo kita laksanakan, kawan. Mari kamu naik ke kepalaku. Biar aku membawa kamu mendekati mulut si raksasa."
         Lalu si kodok melompat-lompat mendekati tubuh si raksasa sambil membopong tubuh si belalang di atas kepalanya. Agar si belakang bisa sedekat mungkin mencapai mulut si raksasa maka si katak membawanya menaiki pohon yang tinggi setinggi tubuh si raksasa.
      “Okey...kita sekarang sudah setinggi si raksasa. Dan aku sudah mengarahkan tubuhku tepat ke arah kepala si raksasa. Okey...siap... kamu siap melompat, kawan. satuuu...dua...tiii..gaaaa!!!”
      Dan....”Staaaappppppppp...” dengan sekali lompatan si belalang sudah menempel ke mulut si raksasa yang sedang tidur. Si belalang segera menggigit mulut si raksasa kuat-kuat. Selesai menggigit bagian mulut, lalu si belalang melompat ke tubuh raksasa yang yang lain dan mengigit sekuat tenaga juga. Setelah itu dia  melompat ke bagian tubuh raksasa yang lain dan menggigit sekuat tenaga juga. Demikian seterusnya. Si raksasa terbangun. Dan dia berteriak sekencang-kencangnya karena  merasakan tubuhnya kesakitan digigit si belalang. ”Aduuuhhhh...sakiit...tolooongg...tolooooooong..sakiiitttt.”
        Si raksasa lupa saat mulutnya terbuka dan meraung-raung kesakitan maka obat penawar racun kebutaaan yang disimpan di mulutnya tertumpah. Hal ini tidakdisia-siakan oleh seluruh rakyat dan seluruh hewan untuk meraihnya demi menyembuhkan kebutaan matanya. Dalam sekejap mata semua rakyat dan seluruh hewan matanya sembuh seperti semula.
      “Horeee...horeee..hooreee... alhamdulillah... akhirnya kita bisa melihat kembali...Hidup belalang dan si katak...” teriak seluruh rakyat dan hewan.
        Mendengar teriakan seluruh rakyat dan seluruh hewan bahwa mereka bisa melihat kembali maka si raksasa menjadi ketakutan. Tanpa pikir panjang ia berusaha lari sekencang-kencangnya menjauh sambil merasakan tubuhnya kesakitan digigit si belalang  di sekujur tubuhnya.


selesai,-

moral cerita : kesuksesan itu akan terasa mudah dan indah apabila kita bisa bekerjasama dengan
                            orang lain.

Saturday, October 19, 2013

KISAH SI NYAMUK DAN RAJA YANG SOMBONG


           Dahulu kala, ada seorang raja yang terkenal serakah, kejam, bengis dan sombong. Setiap perintah
kepada rakyatnya senantiasa menggunakan kekerasan. Tidak pandang bulu, apakah perintah itu kepada anak-anak, orang tua, wanita dan pria. Bagi rakyat yang menolak perintahnya maka akan dihukum seberat-beratnya
         Setiap hari, Sang raja senantiasa mengumbar nafsu angkara. Apa yang diinginkannya harus terpenuhi. Sikap serakah sang raja membuat rakyatnya hidup sengsara. Bahkan seluruh kekayaan alam di wilayah kerajaan terkuras habis demi memenuhi ambisi sang raja. Pepohonan di hutan dan hewan-hewan nyaris punah ditebang dan dibunuh sang Raja.
           Kondisi alam yang semakin memprihatinkan ini membuat para hewan penghuni hutan segera mengambil sikap. Mereka segera berkumpul untuk mengantisipasi kerusakan hutan yang lebih fatal yang diakibatkan ulah sang raja.
           "Kita tidak boleh membiarkan tingkah sang raja yang semena-mena, kawan," kata sang Monyet. "Kalau dia dibiarkan terus membabat pepohonan di hutan maka kita bisa kelaparan karena kekurangan bahan pangan."
           "Benar, kawan." jawab si Beruang. "Akibat pepohonan dibabat Raja maka sumber air minumku  mulai kering. Jadi aku sulit mendapatkan air minum lagi."
           "Hidup kita juga semakin terancam. Sang raja tidak segan-segan melampiaskan nafsunya dengan menembaki kita dengan senapannya. Jadi kita semakin tidak bebas bermain di hutan." kata burung pipit.
           "Benar...benar...benar...sang raja semakin kejam...dia semakin bengis...dia semakin semena-mena...dia semakin sombong...dia semakin mengancam kehidupan kita...kita harus segera mengambil sikap....," seru hewan-hewan yang lain.
          "Bagaimana kalau sang raja kita kudeta saja...kita ganti dengan raja yang baru !"
          "Hush....masalah penggantian raja bukan wewenang kita...kita juga tidak ada kekuatan untuk bisa mengkudeta sang raja....." teriak pak Harimau.
          "Lalu...apa tujuan kita melakukan pertemuan ini kalau kita tidak bisa mengambil tindakan? Wah percuma dong kita melakukan pertemuan hari ini?"
          "Jangan begitu kawan, tujuan kita berkumpul ini selain untuk bersilaturahmi dan sekaligus mengantisipasi sikap sang raja," kata sang Kuda.
          "Bilang saja kamu takut menghadapi sang raja, kawan. Jadi jangan bertele-tele dalam berbicara !!!"
          "Sejujurnya kami semua takut dengan sikap kejam dan semena-mena sang raja. Selama ini semua rakyat tidak ada yang berani memprotes tindakan sang raja. Oleh karena itu, barangkali ada di antara kita yang berani bersikap maka kami sangat berterima kasih. Ayo siapa yang berani menjadi sukarelawan?"
           Namun seluruh hewan tidak ada yang berani bersuara lagi. Semua terdiam. Mereka sadar bahwa selama ini memang tidak ada di antara mereka yang berani menentang sikap sang raja.
           Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seekor nyamuk yang memberanikan diri menjadi sukarelawan untuk melawan sikap sang raja.
           "Ngiingg...ngiiingg...ngiing...aku siap menjadi sukarelawan untuk menghentikan kesombongan sang raja !" teriak si Nyamuk.
           Semua hewan keheranan. Semua pandangan tertuju ke arah tubuh kecil si  nyamuk yang hinggap di dahan pohon. Banyak hewan yang mencibir keberanian si nyamuk. Ada sebagian hewan malah meremehkan keberaniannya dan menganggap si nyamuk hanya mengolok-olok mereka saja. "Mana mungkin tubuh sekecil dia bisa melawan sang raja yang terkenal kejam dan sombong. Banyak hewan yang bertubuh lebih besar dari si nyamuk saja takut menghadapi si raja."
           "Huahahahahaha...huahahahaha...huahahaaa...apa katamu? Mau melawan sang raja? Huahhahaha..huahaha...huahahhha." kata beberapa hewan sambil tertawa terbahak-bahak karena menganggap si nyamuk cuma berolok-olok saja.
           "Aku serius, teman," kata si nyamuk.
           "Sudahlah, kawan...kamu jangan mengolok-olok kita. Kami yang bertubuh lebih besar dari kamu saja ketakutan menghadapi sang raja kok kamu yang bertubuh kecil mau menjadi sukarelawan...."
           "Lho ...aku serius, teman-teman," lanjut si nyamuk berusaha meyakinkan hewan-hewan yang lain. "Bukankah kalian telah putus asa dan tidak sanggup menghadapi ketidakadilan sang raja. Tetapi kenapa ketika ada salah satu temanmu yang berusaha mencoba menjadi sukarelawannya tiba-tiba kamu meremehkannya. Kalian sudah bertindak tidak adil ! Seharusnya menghadapi persoalan ini kalian harus bersatu dan saling mendukung satu sama lain. Siapapun yang menjadi sukarelawannya jangan kalian meremehkan niat tulusnya. Pantas kita selama ini senantiasa mendapat perlakuan yang sewenang-wenang karena di antara kita tidak bisa bersatu dan lebih mementingkan urusan pribadi masing-masing."
            "Benar sekali, kawan, kata si nyamuk," kata si kerbau. "Bukankah setiap makhluk ciptaan Allah swt senantiasa diberi kelebihan masing-masing. Setiap makhluk yang diciptakan Allah swt pasti ada gunanya walau sekecil apapun bentuknya. Sebaiknya kita beri kesempatan teman kita untuk menghadapi sang raja. Kita semua tentu tidak tahu apa kelebihan yang dimiliki si  nyamuk."
           "Setuju...seetuju...setuju...baiklah kita beri kesempatan si nyamuk untuk melakukan tugasnya."
            "Terima kasih atas kepercayaan kalian, teman-teman," kata si nyamuk sambil terbang tinggi menuju tempat kediaman sang raja. Karena tubuh si nyamuk relatif kecil sehingga dalam sekejap semua teman-temannya tidak melihat tubuhnya lagi.
           Si nyamuk terus mempercepat terbangnya menuju kerajaan. Suara kibasan sayapnya terdengar keras : "ngiinnggggg...ngiiinggg...ngiiiinggg....ngiiing...ngiiiiiinnggg." Ketika telah sampai di kerajaan, dia hinggap di atas atap sambil mencari keberadaan sang raja.
          "Wah rupanya sang raja sedang tidur nyenyak," kata si nyamuk dalam hati. "Baiklah kebetulan, aku akan melaksanakan tugasku." Lalu si nyamuk terbang hinggap ke tubuh sang raja. Kemudian si nyamuk menusuk ke beberapa bagian tubuh sang raja dengan mulutnya dan beberapa virus demam berdarah ikut masuk ke dalam tubuh sang raja. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia terbang menjauh untuk menemui teman-temannya lagi.
            "Hoiii..kamu sudah datang, teman?" tanya di monyet kepada si nyamuk. "Lalu apakah kamu sudah mengalahkan sang raja?"
           "Aku sudah melaksanakan tugasku, teman-teman," jawab si nyamuk. "Namun kalian harus sabar dan menunggu beberapa hari lagi. Kalian tentu akan melihat hasilnya."
           "Apa?!!! masih harus menunggu beberapa hari lagi? Wah bisa-bisa kita semakin menderita karena sang raja akan membabat habis hutan kita. Saya kira kamu bisa mengalahkan sang raja saat ini juga. Yaaaaaa...sama saja bohong kamu!" demikian gerutu beberapa hewan yang merasa tidak puas dengan tugas si nyamuk.
                                                                      ***
            Keesokan harinya, seluruh rakyat mendengar pengumuman bahwa sang raja sakit demam hebat. Tubuhnya senantiasa panas tinggi dan sesekali kedinginan. Sang raja tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Para pengawalnya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa melihat sang raja senantiasa menggigil  di dalam selimut yang tebal. Tidak ada tabib yang sanggup menolongnya. Mereka awam dengan penyakit yang sedang dialami sang raja. Selama tiga hari sang raja menderita sakit dan akhirnya karena demamnya semakin meninggi dan dari mulutnya keluar darah akhirnya nyawa sang raja tidak bisa tertolong.
           "Sang Raja wafat...sang raja meninggal...sang raja yang sombong telah tiada...horeeeee...horee....," demikian terdengar teriakan dari rakyat dan para hewan sambil berlarian di sekitar kerajaan. Ternyata sang raja mengalami demam berdarah akibat gigitan nyamuk beberapa hari yang lalu.
            Seluruh hewan akhirnya tahu bahwa semua kejadian ini tentu akibat kerja si nyamuk beberapa hari yang lalu. Mereka akhirnya mengakui bahwa ternyata si nyamuk walau tubuhnya kecil namun memiliki keistimewaan yang sanggup melawan sang raja yang kejam, bengis dan sombong. Mereka akhirnya sadar bahwa menilai teman itu jangan dilihat dari bentuk fisiknya. Setiap makhluk ciptaan Allah swt pasti memiliki kelebihan dan kepandaian yang tidak bisa ditiru oleh makhluk yang lain. Jadi hargailah kepandaian yang kita miliki.



selesai,-

moral cerita : menilai teman jangan dilihat bentuk fisiknya. Setiap makhluk ciptaan Allah swt pasti
                     memiliki kelebihan dan kepandaian yang tidak bisa ditiru makhluk yang lain.
          
           
          

Sunday, September 15, 2013

MONYET YANG SOMBONG

illustrasi : aguskarianto
       Siang itu,  kerajaan binatang akan mengadakan sayembara memilih duta kerajaan. Sang raja menginginkan duta kerajaan yang pemberani dan sanggup mengatasi tantangan seberat apapun. Sayembara ini bisa diikuti siapa saja dengan hadiah yang sangat besar dan istimewa. Oleh karena itu, dalam sekejap seluruh rakyatnya merasa tertarik ikut sayembara. Tidak terkecuali hewan kecil maupun hewan besar berdatangan ke kerajaan.  Mereka berniat mendaftarkan diri menjadi peserta agar bisa mendapat hadiah yang istimewa dari sang raja.
        "Rakyatku semua," kata sang Raja memulai titahnya. " Hari ini kerajaan akan memilih duta kerajaan. Seluruh rakyatku boleh mengikuti sayembaranya. Bagi siapa saja yang berhasil memenangkan sayembara ini  akan mendapat hadiah istimewa dari kerajaan. Semua fasilitas dan kebutuhan hidup akan ditanggung kerajaan. Selain itu, siapa yang menjadi pemenangnya berhak menggantikan kedudukan raja apabila sang raja wafat."
        Mendengar titah sang raja membuat seluruh rakyatnya berkeinginan untuk memenangkan sayembara. Namun mereka belum mengerti apa jenis sayembara yang akan dilakukannya. Mereka saling berpandangan dan saling bertanya jenis sayembara yang harus mereka lakukan.
        "Wah, pasti sayembaranya kita disuruh berkelahi dan siapa yang memenangkan perkelahian maka dialah pemenangnya," kata sang kelinci.
        "Tapi...sepertinya bukan berkelahi, kawan," kata si tupai. "Bukankah sekarang pengawal sang raja adalah si Harimau yang perkasa...sang raja tidak perlu repot-repot mencari duta kerajaan. Dia khan lebih perkasa dibandingkan kita-kita?"
         "Mungkin sayembaranya lomba makan. Bukankah duta kerajaan harus berkunjung dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Nah, dalam setiap kunjungan khan mesti ada makan-makannya. Oleh karena itu, duta kerajaan harus jago makan."
         "Ngawur !"
         "Barangkali lomba renang di sungai kerajaan. Itu yang masuk akal. Siapa yang cepat renangnya dia yang akan menjadi juaranya."
         "Wah kalau lomba renang tentu enak dong sang ikan emas. Dia akan jadi juaranya. Bukankah dia cepat berenang. Ini namanya lomba tidak adil"
          Tiba-tiba sang raja kembali berada di arena sayembara.
         "Rakyatku," kata sang Raja. "Hari ini kerajaan akan mengadakan sayembara berenang di sungai!"
         "Naaahhh, tuhkan benar kataku," kata si kura-kura. "Lomba tidak adil."
         "Hush.!!! diam dulu ! Baginda raja sedang bicara!" bentak si kancil.
         "Rakyatku. Setiap peserta harus berani menyeberang dari pinggir sungai menuju seberang sungai. Nah, siapa yang paling cepat dan berani berenang maka dia akan dinobatkan menjadi pemenangnya." Wah, betapa senangnya si ikan emas. Dia merasa akan keluar sebagai pemenang sebab dia khan jago renang. Namun sang raja masih melanjutkan pidatonya.
        "Namun, kalau hanya sekedar lomba renang pasti ada salah satu peserta yang merasa tidak adil. Karena ada salah satu peserta yang jago berenang. Nah, tantangan terberatnya adalah di dalam sungai sudah dihuni oleh berpuluh-puluh buaya lapar yang siap memangsa siapa saja yang masuk dan berenang ke dalam sungai."
          Betapa terkejutnya semua peserta sayembara mendengar penuturan sang raja. Semula nyali mereka besar namun mendengar bahwa di dalam sungai terdapat puluhan buaya lapar maka membuat nyali mereka ciut, lalu satu persatu mulai mengundurkan diri mengikuti sayembara
          "Hiiiii....hiiiii....hiiiii....takut....takut...takuuuuut!" teriak mereka.
          "Saya mengundurkan diri sang raja."
           "Saya juga...saya juga....saya juga...saya juga...." seru yang lain.
          "Hei, kalian belum mencoba kok sudah mau mengundurkan diri?!" seru sang raja.
           Namun semua rakyat tidak menghiraukan teriakan sang raja. Mereka lebih menyayangi nyawanya daripada sekedar nekat menyerahkan hidupnya di mulut buaya-buaya kelaparan. Meskipun sang raja mengatakan bahwa buaya-buaya itu tidak berbahaya, namun para rakyatnya tidak mempercayai kata-kata raja mereka.
          "Apapun titah dan alasan raja kami batal mengikuti sayembara! Kami lebih menyayangi nyawa kami daripada hanya sekedar mendapatkan kedudukan istimewa di kerajaan." kata rakyatnya.
          Ketika semua rakyatnya mulai menjauh dari arena sayembara,  tiba-tiba ada teriakan keras di pinggir sungai. Sang raja segera menuju sungai diikuti para peserta yang telah mengundurkan diri. Dan betapa kagetnya mereka melihat ada salah satu peserta sayembara yang sedang mencoba berenang diantara buaya-buaya kelaparan.
         "Jadi si Monyet telah mencoba menaklukkan sayembara sang raja?" pikir teman-temannya.
         "Heran...bukankah sang monyet takut dengan air? Lalu kenapa dia sekarang berusaha berenang di antara buaya-buaya kelaparan itu?" kata sang raja dalam hati.
         "Hoi...terus Nyet....terus Nyet....Awasss...di sebelah kananmu ada buaya Nyet....!" teriak teman-temannya.
         "Awassss....di belakangmu ada buaya Nyet....ayo renangnya yang cepat Nyet !"
         "Ayo tinggal sedikit lagi, Nyet....!!!!"
         Dan, ketika si monyet telah berada di pinggir sungai lalu melompat keluar sungai maka teriakan gembira seoah tiada henti-hentinya memberi selamat kepada si monyet. Si monyet berhasil memenangkan sayembara.
         "Hore....hore...horeeee.....Hebat kamu, Nyet! Tidak kami sangka ternyata kamu benar-benar pemberani! Hidup monyet....hidup sang pemberani....!!!"
          Si monyet hanya bisa garuk-garuk kepala merasakan kejadian yang menimpa dirinya. Sebenarnya dia sangat  takut mengikuti sayembara seperti teman-temannya yang lain. Dia takut berenang apalagi di dalam sungai ada puluhan buaya kelaparan.
          "Hei, Monyet...kenapa kamu nampak bingung begitu? Kamu sudah jadi pemenang sayembara kerajaan lho!" kata hewan-hewan yang mengelilingi si Monyet.
           "Aku pemenang sayembara?" guman si monyet keheranan
            "Iya Nyet...kamu tadi berenang sangat cepat di samping buaya-buaya kelaparan itu...!"
            "Aku tidak mengerti kawan." kata si monyet.
            "Lho sang pemenang kok tidak kelihatan gembira begitu?"
            "Begini, teman-teman," kata si monyet. "Tadi sebenarnya aku juga takut mengikuti sayembara sang raja. Aku takut berenang di air. Aku takut dengan buaya-buaya kelaparan itu.  Aku cuma heran siapa sebenarnya yang telah mendorongku ke dalam sungai tadi?"
            Seluruh hewan nampaknya tidak mempedulikan alasan si Monyet. Mereka kini menghargai keberhasilan si monyet mengalahkan ketakutannya sendiri.  Dan sang Rajapun akhirnya memenuhi janjinya memberikan hadiah istimewa kepada si Monyet.
            Si monyet dengan senang hati menerima hadiah dari sang raja sambil terus berpikir : "SIAPA YANG TELAH MENDORONGKU KE DALAM SUNGAI TADI ?"



selesai ,-

moral cerita : rasa takut melakukan sesuatu terkadang perlu seseorang yang tega mendorong
                     memasukkan kedalam lautan ketakutan sehingga rasa takut dapat dihadapi
                     dengan mengerahkan segala potensi yang ada agar selamat.